Langsung ke konten utama

Pengalaman Tak Terlupakan di Pulau Um, Sorong






Pada 25 November 2018, saya berkesempatan untuk berlibur ke Pulau Um, sebuah pulau tersembunyi yang terletak tidak jauh dari pusat kota Sorong. Perjalanan ini, yang saya lakukan bersama rekan-rekan kerja, bukan hanya sekadar liburan, tetapi juga petualangan yang penuh kesan.


Perjalanan Penuh Tantangan Menuju Pantai Malangkarta

Kami memulai perjalanan dari pusat kota Sorong menggunakan sepeda motor, menyusuri jalan yang menantang menuju wilayah Makbon. Pemandangan di sepanjang jalan sangat memukau, mulai dari hutan lebat, sungai yang jernih, hingga udara yang sejuk.

Namun, perjalanan ini juga memberikan sedikit kejutan. Kami sempat dihadang oleh sekelompok warga bersenjata parang yang ternyata hanya meminta rokok. Selain itu, kondisi jalan yang berkelok-kelok dan naik-turun juga menguji nyali kami. Setelah melewati hutan dan perkampungan yang damai, akhirnya kami tiba di Pantai Malangkarta, yang menjadi titik penyeberangan menuju Pulau Um.


 Pantai Malangkarta

Kehidupan dan Kearifan Lokal di Pantai Malangkarta

Sambil menunggu perahu yang mengantar kami ke pulau, saya berbincang dengan seorang warga lokal yang berprofesi sebagai petugas perahu. Dari beliau, saya mendapatkan banyak informasi berharga tentang kehidupan di Pantai Malangkarta.

Warga di sini memiliki kehidupan yang sederhana. Fasilitas umum seperti sekolah hanya tersedia hingga tingkat SMP, dan puskesmas hanya buka satu kali seminggu. Mata pencaharian utama mereka adalah berkebun, melaut, dan kini juga menjadi penyedia jasa perahu bagi wisatawan.

Yang paling menarik adalah sistem koperasi warga yang mengelola penyewaan perahu. Mereka mengatur jadwal antar-jemput wisatawan secara mandiri, dan ini juga menjadi cara mereka untuk menjaga kebersihan pulau dari sampah. Petugas perahu sangat tegas soal sampah; setiap pengunjung yang membawa kantong plastik atau barang apa pun harus membawanya kembali saat pulang. Jika ada yang melanggar, mereka harus kembali ke pulau untuk mengambil sampahnya, baik dengan menyewa perahu lagi atau berenang.


Menikmati Keindahan dan Keunikan Pulau Um

Setelah menunggu sekitar satu jam, kami pun menyeberang dengan perahu. Hanya dalam 10 menit, kami tiba di Pulau Um. Pulau ini sangat alami, dengan pasir putih bersih, udara segar, dan air laut yang jernih.

Salah satu hal yang paling unik dari Pulau Um adalah ribuan kelelawar yang bergelantungan di pohon. Pulau ini memang dikenal sebagai habitat mereka. Ukurannya tidak terlalu besar; kami bisa mengelilinginya dengan berjalan kaki dalam waktu kurang dari 20 menit.

Meskipun saat itu ramai pengunjung, suasana pulau tetap terasa nyaman. Kami menghabiskan seharian penuh untuk bermain air dan menikmati keindahan alam. Ini adalah cara terbaik untuk melepas penat setelah rutinitas bekerja.


Tips dan Kesimpulan

Pulau Um adalah destinasi yang sempurna untuk melepas penat. Perjalanan ini bukan hanya memberikan pengalaman liburan yang menyenangkan, tetapi juga mengajarkan saya untuk lebih menghargai keindahan alam dan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan.

Untuk Anda yang berencana berkunjung, ada beberapa tips yang bisa Anda pertimbangkan:

  • Bawa bekal makanan dari rumah, karena di sana tidak banyak pilihan warung makan.

  • Pergi atau pulang saat cuaca masih terang untuk alasan keamanan, mengingat minimnya penerangan di jalanan.

Pengalaman ini benar-benar tak terlupakan dan menjadi pengingat bahwa keindahan tersembunyi di sekitar kita sering kali datang bersama dengan pelajaran berharga.

 

Salam Rahayu_

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...