Langsung ke konten utama

PAPER PERBANDINGAN INDUSTRI KREATIF ANTARA KOREA SELATAN DENGAN SINGAPURA

Tugas Akhir Mata Kuliah Ekonomi Politik di Asia Timur

Note: Late Post Paper Mahasiswa UMY 2015

 

Korea Selatan dan Singapura adalah dua negara dengan wilayah yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan negara-negara lainnya di kawasan Asia Timur. Keduanya sama-sama memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya alam. Namun demikian, keduanya memiliki cita-cita yang besar untuk menjadi negara maju di kawasan Asia Timur dan di dunia internasional. Selama ini Korea Selatan dan Singapura membangun perekonomian negaranya tidak bertumpu pada kekayaan sumber daya alam dalam negeri yang dimilikinya. Keterbatasan sumber daya alam dalam negeri jelas membuat keduanya cenderung lebih berkonsentrasi dalam mengembangkan sumber daya manusia yang unggul. Maka, kedua negara justru membangun perekonomiannya dengan bertumpu pada sektor ekonomi kreatif yang dikembangkan dan dikemas sedemikian rupa dalam bentuk produk budaya, ilmu pengetahuan, hiburan, pariwisata, maupun jasa yang memberi kontribusi besar bagi ekonomi dan politik negara. Industri kreatif di kedua negara kini berkembang pesat dan memberikan dampak positif bagi pemasukan (devisa) negara. Selain itu, ekspor produk-produk industri kreatif juga menjadi kekuatan soft diplomacy yang dimiliki oleh Korea Selatan dan Singapura dalam hubungan internasional. Maka, jadilah sekarang ini Korea Selatan dan Singapura sebagai negara maju dan modern yang terkenal dengan produk-produk indutri kreatifnya di seluruh dunia.

Korea Selatan adalah salah satu negara yang selama dua dekade terakhir mengembangkan sektor industri kreatifnya secara konsisten, sebagai sektor utama untuk menunjang pertumbuhan ekonominya. Fokus pengembangan mereka adalah industri konten yang meliputi penerbitan, kartun, musik, permainan elektronik dan interaktif, film, animasi, penyiaran, periklanan, karakter, pengetahuan, dan informasi.[1] Perkembangan industri kreatif di Korea Selatan mendapat dukungan tidak hanya dari lembaga pemerintah namun juga dari lembaga-lembaga non-pemerintah yang ikut berpartisipasi memberi dukungan berupa ide ataupun dana secara aktif dalam kerjasama yang dinamis. Terdapat beberapa lembaga baik itu yang berasal dari pemerintah maupun non-pemerintah yang dianggap memiliki andil besar dalam pengembangan industri kreatif di Korea Selatan, seperti: KOCCA (Korea Content Creative Agency), KOFIC (Korea Film Council), Cheil Jedang Entertainment and Media (CJ E&M), perusahaan animasi Wonderworld Korea, Korean Polytech University, Leading investment, dll.

Kebijakan pengembangan ekonomi kreatif di Singapura berpijak pada dua sumber, yaitu kajian Advisory Council on Culture and the Arts (ACCA, 1989) dan Renaissance City Plans (RCP, 2000). Berdasarkan dua kajian ini, kebijakan pengembangan ekonomi kreatif di Singapura diintegrasikan dengan proses penyusunan kebijakan publik, perencanaan tata kota/kewilayahan, serta pembentukan beberapa lembaga beserta program turunannya. Dalam kajian RCP, sektor seni dan budaya disebut sebagai aspek yang sangat penting bagi perkembangan ekonomi Singapura secara keseluruhan.[2] Singapura mampu mengakali kondisinya sebagai negara yang berwilayah kecil dan memiliki keterbatasan sumber daya alam dengan berkonsentrasi penuh mengembangkan sumber daya manusia yang dimiliki. Selain itu, Singapura juga tetap berkonsentrasi pada sektor keuangan dan jasa yang selama ini memberi sumbangan besar bagi perekonomian negaranya. Saat ini, industri kreatif berupa seni dan budaya juga mulai berkembang pesat di Singapura berkat kerjasama yang dinamis antara pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah Singapura membuat kebijakan-kebijakan implementasi dari action plan pengembangan ekonomi kreatif yang telah dicanangkan sejak masa pemerintahan Perdana Menteri Lee Kuan Yew. Pemerintah Singapura berhasil mendorong masyarakatnya untuk menjadikan seni dan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga berbagai festival ataupun kegiatan-kegiatan seni-budaya dapat diekspose setiap hari di Singapura. Strategi ini berdampak besar pada peningkatkan jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung ke Singapura.

Pengembangan industri kreatif di Korea Selatan dan Singapura dapat dikatakan sangat sukses. Diantara keduanya terdapat kesamaan-kesamaan tertentu, namun tentunya juga terdapat beberapa perbedaan yang khas. Maka, dalam paper ini kelompok kami mencoba untuk memaparkan perbandingan industri kreatif yang ada di Korea Selatan dengan yang ada di Singapura. Kami berharap tulisan ini dapat menginspirasi masyarakat maupun pemerintah Indonesia dalam mengembangkan industri kreatif di negeri tercinta.

A.    Rumusan Masalah

·         Mengapa kedua negara memilih industri kreatif sebagai penunjang perekonomiannya?

·         Bagaimana perbandingan pengelolaan industri kreatif di kedua negara?

 

A.    Definisi Industri Ekonomi Kreatif

Istilah Ekonomi Kreatif mulai ramai diperbincangkan sejak John Howkins, menulis buku "Creative Economy, How People Make Money from Ideas". Howkins mendefinisikan Ekonomi Kreatif sebagai kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah Gagasan. Atau dalam satu kalimat yang  singkat, esensi dari kreativitas adalah gagasan. Maka dapat dibayangkan bahwa hanya dengan modal gagasan, seseorang yang kreatif dapat memperoleh penghasilan yang relatif tinggi. Tentu saja yang dimaksud dengan gagasan disini adalah karya orisinal dan dapat diproteksi oleh HAKI. Sebagai contoh adalah penyanyi, aktor dan artis, pencipta lagu, atau pelaku riset di bidang mikrobiologi yang sedang meneliti varietas unggul bibit tanaman yang belum pernah ditemukan. Ditandaskan pula oleh ahli ekonomi Paul Romer (1993), bahwa ide adalah barang ekonomi yang sangat penting, lebih penting dari objek yang sering ditekankan di kebanyakan model dan sistem ekonomi. Konsep Ekonomi Kreatif merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. [3] Ekonomi kreatif sangat tepat diterapkan oleh negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam (SDA). Keunggulan sumber daya manusia (SDM) dapat menjadi kekayaan sebuah negara yang bernilai ekonomi tinggi dan berjangka waktu lebih panjang jika dibandingkan dengan kekayaan SDA. Hal ini dikarenakan ekonomi kreatif tergantung kepada modal sumber daya manusia yang memiliki kreatifitas atau skill (Human Intellect/Human Creative). SDM dalam hal ini harus mampu melahirkan berbagai ide dan menterjemahkannya kedalam bentuk barang dan jasa yang bernilai ekonomi. Dalam proses produksinya, negara bisa saja mengikuti kaidah ekonomi industri, tetapi proses ide awalnya adalah kreativitas. Kreativitas menjadi modal yang besar untuk mengembangkan industri kreatif.

B.     Kontribusi Industri Kreatif bagi Ekonomi-Politik Korea Selatan dan Singapura

Korea Selatan adalah salah satu negara yang selama dua dekade terakhir mengembangkan sektor industri kreatifnya secara konsisten, sebagai sektor utama untuk menunjang pertumbuhan ekonominya. Fokus pengembangan mereka adalah  industri konten yang meliputi penerbitan, kartun, musik, permainan elektronik dan interaktif, film, animasi, penyiaran, periklanan, karakter, pengetahuan, dan informasi.[4] Industri kreatif kemudian menjadi salah satu penyumbang kemajuan ekonomi Korea Selatan yang signifikan. Istilah “Hallyu” adalah istilah untuk menggambarkan gelombang budaya Korea Selatan yang mempengaruhi hiburan masyarakat dunia. Hallyu kemudian dikembangkan sebagai metode diplomasi dan komoditas yang dijual secara internasional sehingga turut menaikkan pendapatan negara. Produk-produk Hallyu dapat berupa drama, album musik yang identik dengan boy and girl band khas Korea Selatan. Modernisasi ini membawa dampak sosial berupa pergeseran peran wanita dalam rumah tangga karena dengan adanya semangat Hallyu kaumwanita turut menjadi partisipan dalam dunia kerja sehingga urusan rumah tangga dipekerjakan pada orang lain.[5]

Ekonomi kreatif Korea yang awalnya adalah hanya berupa film, music, kartun/komik yang memunculkan Hallyu kini merambah ke berbagai bidang yang terkait dengan Korea. Tempat syuting film-film Korea dijadikan tempat pariwisata, film dan komik/kartun dibuat marchendisenya, gaya rambut dan pakaian artis-artis Korea menjadi panutan anak-anak muda seluruh dunia dan menjadikan pakaian-pakaian model artis Korea menjadi laku di pasaran. Terkait dengan music, artis-artis Korea mengadakan perjalanan konser ke berbagai Negara, dimana pendapatan artis akan menigkat dan pendapatan ke pemerintan juga meningkat. Pendapatan artis-artis Korea akan meningkat dan segala hal-hal yang berkaitan dengan film, music, dan kartun/komik buatan Korea akan terjual laris di pasaran dan juga meningkatkan pendapatan pemerintah. Bisa dikatakan, Korean Wave menjadi bentuk nyata keberhasilan pemerintah Korsel melakukan inflitrasi budaya di berbagai negara ditengah derasnya arus globalisasi budaya Barat. Namun, menjadikan budaya Korsel terkenal di seluruh dunia tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Semua itu bermula pada 20 tahun lalu, ketika pemerintah Korsel merancang sebuah Korea masa depan, dengan budayanya yang digandrungi banyak orang di dunia. Pemerintah Korea sejak saat itu memberikan program beasiswa besar-besaran bagi para artis dan seniman di negaranya, untuk belajar di Amerika Serikat dan Eropa. Dari program inilah dihasilkan artis-artis berpengalaman yang mengerti selera musik, gaya hidup, bahkan selera pasar. Hasilnya, Korea kini memetik buah dari keseriusan menggarap industri pop mereka. Menurut The Korea Creative Content Agencys, pada tahun 2011 Korea menangguk keuntungan mencapai Rp. 35 triliun dari bisnis K-Pop. Angka ini meningkat 14 persen dibandingkan tahun 2010. K-Pop juga mendongkrak citra Korea.[6]

Singapura adalah negara yang memiliki visi kemajuan sebagaimana Korea Selatan. Dari sisi ekonomi, industri kreatif ini berkontribusi sekitar 3,6% terhadap GDP 2008, menyerap sebanyak 114.600 tenaga kerja dan menghasilkan nilai tambah sebesar 9,2 miliar dolar Singapura. Karena itu Singapura meningkatkan kepeduliannya terhadap industri kreatif dengan membuka program-program pendidikan terkait, penyelenggaraan berbagai kompetisi untuk desain-desain baru, pengembangan penelitian dan kajian, serta skema bantuan insentif untuk pengembangan industri kreatif.[7] Industri media di Singapura tumbuh dengan nilai sekitar S$ 5.5 milyar dan mendatangkan pendapatan hingga sekitar S$ 22.4 milyar. Sektor ini mempekerjakan lebih kurang 58 ribu orang dan terdiri dari beberapa sektor industri terkait, termasuk produksi dan penyiaran TV, percetakan dan penerbitan, film, musik, juga media interaktif dan digital. Media interaktif dan digital yang dikembangkan mencakup video games, animasi, media online/mobile, atau hiburan dalam bentuk baru. Pada perkembangannya, industri animasi dan games (termasuk media online/mobile) mengalami peningkatan sekitar 22% dari tahun 2005-2009. Pada tahun 2009 sektor ini memberi kontribusi sekitar S$ 867 juta dalam VA, menyokong pendapatan sekitar S$ 1.5 milyar, serta mempekerjakan sekitar 7.400 orang.[8]

C.    Perbandingan Pengelolaan Industri Kreatif

Industri Kreatif di Korea Selatan

Secara umum, modernisasi Korea Selatan telah dicapai melalui industrialisasi ekonomi dan strategi ekspansi ekspor serta pertumbuhan ekonomi yang di pimpin oleh negara yang terjadi pada tahun 1960, namun  pada era ini masyarakat sipil tidak memiliki peran aktif serta partisipasi di dalam politik, hingga pada tahun 1990-an reformasi politik menjadi agenda dalam masyarakat Korea Selatan. Dengan berkurangnya peran negara dalam pasar dan meningkatnya serta menguatnya posisi kelompok kepentingan dalam masyarakat sipil, sebuah periode politik yang lebih dinamis dan terbuka dengan partisipasi dan gerakan warga yang lebih besar telah dimulai dikorea selatan.[9] Namun hingga saat ini, pengaruh pemerintah Korea Selatan dalam perkembangan industri kreatif  juga sangat banyak. Korea Selatan merupakan salah satu negara di Asia yang memiliki perkembangan perekonomian yang cukup pesat, dan salah satu alasan perkembangan perekonomian yang cukup pesat di Korea Selatan ialah melalui industri kreatif. Di Korea Selatan, industri kreatif sejak 2005 menyumbang lebih besar daripada manufaktur dengan rata-rata memberikan kontribusi ekspor diatas 30 %.[10] Dengan pengelolaan industri kreatif yang memadai, menjadikan Korea Selatan termasuk dalam negara dengan perekonomian terbaik dengan perdapatan perkapita pertahun lebih dari USD 2000 dan memiliki cadangan devisa senilai USD 525,4 milyar dan menempati posisi sebagai ekonomi ke-11 terbesar didunia.[11]

Industri kreatif di Korea Selatan yang sangat terkenal ialah Film/Drama, Musik, Video, dan Televisi. Namun seiring dengan suksesnya Film/Drama, Musik, Video dan Televisi, membuat jenis-jenis industri kreatif di Korea Selatan seperti Seni Pertunjukan (showbiz), Fotografi, Radio (broadcasting), Kerajinan (craft), Desain, Fesyen (fashion), Permainan Interaktif (game), Wisata dan Kuliner juga ikut berkembang. Hal ini dapat dilihat melalui  keuntungan dari sektor perfilman menunjukan hasil yang signifikan, yaitu dari tahun 1996 dengan nilai ekspor perfilman sebesar 6 juta dollar dan impor perfilman sebesar 64 juta dollar, maka di tahun 2010 ekspor perfilman menjadi 187 juta dollar dan impor perfilman turun drastis menjadi 10,4 juta dollar.[12]



Pada Januari 2015, diberitakan melalui Korea.net bahwa Pemerintah Korea Selatan akan berkonsentrasi pada vitalitas industri kreatif untuk membantu perekonomian Industri kreatif. Presiden Park Geun-hye juga mengatakan bahwa “The center should provide one-stop service, ranging from business support and suggestions on how to attract investment all the way to helping penetrate overseas markets, and should be open to anyone who visits there with ideas”. Hal ini dimulai  dengan lima organisasi pemerintah mengumumkan rencana mereka untuk mewujudkan visi ekonomi kreatif mereka untuk tahun 2015 pada konferensi kebijakan Januari yang juga diikuti Kementrian Pendidikan, ICT & Perencanaan Masa Depan dan Perdagangan, Industri dan Energi.[13] Selain dukungan dari pemerintah, industri kreatif di Korea Selatan juga mendapat dukungan dari non-pemerintah. Namun secara keseluruhan industri kreatif di Korea Selatan terutama industi perfilman dan drama telah dibangun sejak lama. Dukungan pengelolaan industri kreatif ini antara lain;

·         Dukungan yang dipelopori Presiden Kim Young Sam pada 1995, dimana ia mengeluarkan dua langkah utama yaitu secara Koordinatif (dilakukan dalam upaya perluasan kultural korea) dan secara Regulative dan Promotif (langkah dukungan hukum dan pembentukan instansi Cultural Industry Bureau yang berada dibawah Korean ministry of cultur and sports yang diikuti dengan dikeluarkannya kebijakan kelonggaran pajak pagi para pelaku industry kreatif .[14]

·         Kebijakan pendukung untuk infrastruktur, yang memungkinkan sewa fasilitas produksi untuk perusahaan produksi kecil independen, yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan banyak drama atau film Korea.

·         Pembatasan program siaran TV Jepang akan memberi lebih banyak waktu bagi pemerintah Korea untuk mengembangkan industri dalam negeri[15].

·         Mendapat dukungan pembiayaan. Industri kreatif di Korea Selatan mendapatkan dukungan pembiayaan dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang menangani pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif, di antaranya Korea Content Creative Agency (KOCCA), Korea Film Council (KOFIC), Cheil Jedang Entertaintment and Media (CJ E&M), perusahaan animasi Wonderworld Korea, Korean Polytech University, dan Leading Invesment.[16] Pada januari 2015 lalu juga dikatakan bahwa dalam rangka untuk meningkatkan daya saing TI di sektor keuangan, pemerintah akan memperkuat dukungannya. Komisi Jasa Keuangan (FSC) akan mendirikan pusat dukungan untuk "fintech" (finances dan technology) bekerjasama dengan CCEIs (Centers for Creative Economy & Innovations) . Komisi jasa keuangan juga akan menyediakan total KRW 180 trilyun untuk mendukung industri dengan potensi pertumbuhan yang baik, seperti sektor software dan konten. Hal ini juga akan mengalokasikan KRW 200 miliar untuk menetaskan perusahaan fintech bekerjasama  dengan badan-badan keuangan negara, seperti Bank Pembangunan Korea.[17]

·         Pemerintah Membuat Ekonomi Kreatif Lembah/Creative Economy Valley. Dalam hal ICT dan industri video game, kementerian pendidikan akan membuat Ekonomi Kreatif Lembah (CEV) di Pangyo, Gyeonggi-do (Propinsi Gyeonggi), di mana banyak IT dan bisnis permainan dapat ditempatkan. Ekonomi Kreatif Lembah akan dilengkapi dengan fasilitas yang diperlukan dan pusat dukungan untuk membantu masyarakat yang ingin memulai usaha kecil.

·         Pemerintah akan membuat "kampus teknologi tinggi untuk pebisnis pemula". Kampus ini direncanakan akan berlokasi di sepanjang Teheran-ro di Gangnam-gu (distrik), Seoul selatan. Ini akan dibuka pada bulan Juni tahun 2015.

·         Membangun "China Desk". Pemerintah Korea Selatan juga akan memberikan dukungan terhadap perusahaan yang masuk pasar luar negeri. Departemen Perdagangan, Industri dan Energi akan membangun "China Desk" di Asosiasi Perdagangan Internasional Korea dan memberikan dukungan, termasuk mengelola tempat dokumen asal, dan menjelajahi pasar untuk ekspor, semua untuk membantu perusahaan memasuki pasar Cina daratan.[18] Industri kreatif di Korea Selatan yang di kelola masyarakat dan mendapatkan dukungan penuh pemerintah, membuat perkembangan industri kreatif di Korea Selatan begitu tumbuh pesat dan dapat menyumbang perekonomian yang cukup besar di Korea Selatan. Peran pemerintah yang membuat  kebijakan pro-industri kreatif  semakin membuat industri kreatif terus berkembang.

Industri Kreatif di Singapura

Dalam pengelolaan industri kreatif, Singapura memiliki 3 inisiatif atau dengan kata lain kebijakan sebagai strategi dalam hal tersebut, antara lain Renaissance City Plans 2.0 (RCP, 2000), Media 21, dan Design Singapore.[19] Ketiga hal tersebut telah meliputi 3 sektor yang menjadi target inisiatif Singapura, antara lain :

1.      Pengembangan konten seni dan budaya meliputi photography, visual arts, performing arts, arts and antique trade, dan craft yang secara total berfokus pada Singapura dan wilayah Asia, beserta pengembangan dan penyebaran karya di panggung dunia.

2.      Pengembangan konten media yang meliputi publishing, TV and radio, digital media, film and video.

3.      Pengembangan Design yang meliputi software, advertising, architecture, interior design, graphic design, industrial design, dan fashion.

Selain 3 inisiatif tersebut, di Singapura ada Ministry of Information, Communications and the Arts (MICA), Depkominfo (Departemen Komunikasi dan Informasi), dan Menbudpar (Kementerian Budaya dan Pariwisata) yang merupakan instansi yang bertanggungjawab atas strategi pengembangan industri Singapura yang bekerjasama dengan instansi pemerintah lainnya dan beberapa stakeholders.[20] Dari masing-masing instansi, semua memegang peran dalam pengembangan industri kreatif di Singapura, contohnya MICA yang berperan mengatur beberapa instansi yang antara lain :

1.      National Council of The Arts (NCA) dan National Heritage Board (HBD) yang memliki fungsi untuk merealisasikan fungsi “Arts for Arts’s Sake”, yaitu fungsi yang dimana kedua instansi ini akan melakukan pengembangan pada bidang seni untuk melestarikan seni itu sendiri seperti pendidikan seni, pembinaan seniman, bantuan finansial untuk kesenian non-profit, dll.

2.      Media Development Authority (MDA) yang berfungsi sebagai instansi pengembangan media Singapura yang bisa disamakan fungsinya dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

3.      Economic Development Board (EDB) dan International Enterprise Singapore (IES) yang berfungsi menjadikankan Singapura sebagai “Asia’s leading hub for design, where design excellence is a key national driver for competitiveness”, dengan kata lain mempromosikan kemampuan desain Singapura dan berusaha menarik investasi di bidang desain ke Singapura.

Saat ini dalam pengembangan masing-masing sektor mengalami kemajuan yang cukup pesat seperti sektor seni dan budaya di Singapura yang telah berkembang pesat dengan rata-rata 80 kegiatan setiap hari dan terlihat bahwa masyarakat Singapura mulai menganggap seni dan budaya sudah menjadi bagian vital bagi hidup mereka. Peningkatan ini disokong oleh berbagai kegiatan semisal festival, konser musik ataupun kegiatan lain yang berskala lokal, regional sampai dengan internasional. Selain fasilitas infrastruktur yang memadai, perkembangan ini juga ditunjang dengan dukungan promosi yang maksimal, sebagai perbandingan sekurangnya 2 dari 5 orang menghadiri kegiatan seni dan budaya pada tahun 2009 dan pada tahun 1999 perbandingannya sekitar 1 dari 7 orang.[21] Dalam rangkaian upaya kebijakan ini, MICA juga meluncurkan Arts and Culture Strategic Review (ACSR) yang memproyeksikan pembangunan kebudayaan Singapura sampai tahun 2025.[22] Kajian ini disusun pada tahun 2010 dan dikembangkan oleh steering committee yang terdiri dari perwakilan masyarakat, sektor privat, dan praktisi. Tugas dari forum ini adalah melakukan kajian, mendorong ketelibatan sektor publik dan privat, serta melakukan promosi dan keberlanjutan pengembangan di sektor terkait. Beberapa komponen yang dikembangkan berdasar kajian ACSR adalah sebagai berikut:

  1. Product, fokus pada kinerja maksimal bagi lembaga dan penciptaan karya terbaik.
  2. People, mendorong pembentukan komunitas warga dan masyarakat yang memiliki apresiasi serta para praktisi yang dapat mendukung pengembangan sumber daya kreatif, semisal para seniman yang memiliki skill dan kompetensi, para pekerja profesional, ataupun talenta kreatif yang memiliki kualitas “bintang”.
  3. Place, maksudnya adalah pengembangan wilayah, tempat, ataupun destinasi yang memiliki identitas yang otentik, mudah diakses, serta mampu meninggalkan kesan yang mendalam.
  4. Participation and Partnership, pembentukan komunitas masyarakat yang memiliki kohesi, akal budi, dan kreatif, agar memiliki rasa kepemilikan terhadap upaya pengembangan sektor seni dan budaya.

Melalui strategi ini, beberapa sektor industri yang dikenali sebagai emerging industries mendapatkan perhatian dalam bentuk dukungan fasilitas dan anggaran khusus. Sejak kebijakan ini dikembangkan, value-added (VA) industri media di Singapura tumbuh dengan nilai sekitar S$ 5.5 milyar dan mendatangkan pendapatan hingga sekitar S$ 22.4 milyar.


Kesimpulan

Korea Selatan dan Singapura adalah dua negara dengan wilayah yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan negara-negara lainnya di kawasan Asia Timur. Keduanya sama-sama memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya alam. Namun demikian, keduanya memiliki cita-cita yang besar untuk menjadi negara maju di kawasan Asia Timur dan di dunia internasional. Selama ini Korea Selatan dan Singapura membangun perekonomian negaranya tidak bertumpu pada kekayaan sumber daya alam dalam negeri yang dimilikinya. Keterbatasan sumber daya alam dalam negeri jelas membuat keduanya cenderung lebih berkonsentrasi dalam mengembangkan sumber daya manusia yang unggul. Maka, kedua negara justru membangun perekonomiannya dengan bertumpu pada sektor ekonomi kreatif yang dikembangkan dan dikemas sedemikian rupa dalam bentuk produk budaya, teknologi, ilmu pengetahuan, hiburan, pariwisata, maupun jasa yang memberi kontribusi besar bagi ekonomi dan politik negara. Konsep Ekonomi Kreatif sendiri merupakan sebuah konsep ekonomi di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan stock of knowledge dari Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Ekonomi kreatif sangat tepat diterapkan oleh negara yang memiliki keterbatasan sumber daya alam (SDA). Keunggulan sumber daya manusia (SDM) dapat menjadi kekayaan sebuah negara yang bernilai ekonomi tinggi dan berjangka waktu lebih panjang jika dibandingkan dengan kekayaan SDA.

  1. Perkembangan industri kreatif di Korea Selatan mendapat dukungan tidak hanya dari lembaga pemerintah namun juga dari lembaga-lembaga non-pemerintah yang ikut berpartisipasi memberi dukungan berupa ide ataupun dana secara aktif dalam kerjasama yang dinamis. Istilah “Hallyu” adalah istilah untuk menggambarkan gelombang budaya Korea Selatan yang mempengaruhi hiburan masyarakat dunia. Hallyu kemudian dikembangkan sebagai metode diplomasi dan komoditas yang dijual secara internasional sehingga turut menaikkan pendapatan negara. Kebijakan pengembangan ekonomi kreatif di Singapura berpijak pada dua sumber, yaitu kajian Advisory Council on Culture and the Arts (ACCA, 1989) dan Renaissance City Plans (RCP, 2000). Berdasarkan dua kajian ini, kebijakan pengembangan ekonomi kreatif di Singapura diintegrasikan dengan proses penyusunan kebijakan publik, perencanaan tata kota/kewilayahan, serta pembentukan beberapa lembaga beserta program turunannya. Dari sisi ekonomi, industri kreatif ini berkontribusi sekitar 3,6% terhadap GDP 2008, menyerap sebanyak 114.600 tenaga kerja dan menghasilkan nilai tambah sebesar 9,2 miliar dolar Singapura. Saat ini dalam pengembangan masing-masing sektor mengalami kemajuan yang cukup pesat seperti sektor seni dan budaya di Singapura yang telah berkembang pesat dengan rata-rata 80 kegiatan setiap hari dan terlihat bahwa masyarakat Singapura mulai menganggap seni dan budaya sudah menjadi bagian vital bagi hidup mereka

Dosen Pengampu: Dra. Grace Lestariana W, M.Si.


Team Penyusun :    

1. Muhammad Fatahillah                        

2. Diego Pasha Sam Putra                      

3.   Riko Fazar Aditama                             

4. Arie Ria Prata

5. Rahayu devita


DAFTAR PUSTAKA

HENDANG SETYO RUKMI, L. F. (2012). Studi Tentang Kondisi Industri Kreatif Permainan Interaktif di Kota Bandung Berdasarkan Faktor-Faktor yang Dipersepsikan Penting oleh Produsen dan Konsumennya. Jurnal Itenas Rekayasa vol. 2.

Iskandar, G. H. (2015, Februari 16). Dukungan Kebijakan Ekonomi Kreatif. Retrieved Juni 17, 2015, from IDCEWatch: http://www.idcewatch.com/dukungan-kebijakan-ekonomi-kreatif/

KAUROW, M. C. (2013). STRATEGI KOREA SELATAN DALAM EKSPOR PRODUK KOREAN WAVES KE JEPANG. ejournal.hi.fisip-unmul.org.

Liang, I. C. (n.d.). INDUSTRI KREATIF DAN EKONOMI SOSIAL DI INDONESIA: PERMASALAHAN DAN USUSLAN SOLUSI DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL. Hal. 7.

Mohtar Mas'oed dan Yang Seung-Yoon. (2005). Memahami Politik Korea. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Munib, T. A. (2012, April 18). Demam K-Pop Keberhasilan Pemerintah Korea Selatan Membangun Perekonomian Lewat Seni. Retrieved Juni 17, 2015, from Kompasiana: http://www.kompasiana.com/triono_akmad_munib/demam-k-pop-keberhasilan-pemerintah-korea-selatan-membangun-perekonomian-lewat-seni_550f3bfd813311c82cbc674e.

Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015: Pengelolaan Industri Kreatif di Singapura, hal. 132.

 

Wardhana. (n.d.). Perkembangan Industri Kreatif di Singapura. Retrieved Juni 2015, 2015, from Tabloid Diplomasi: http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/72-desember-2009/661-perkembangan-industri-kreatif-di-singapura.html.

 

http://internasional.kompas.com/read/2012/09/27/10333611/Kreativitas.Ekonomi.Korea.Selatan.Perlu.Ditiru. (diakses pada tanggal 18/06/2015 pukul 14.46 WIB).

 

http://www.feb.unpad.ac.id/id/arsip-fakultas-ekonomi-unpad/opini/2198-pilar-pilar-ekonomi-kreatif (diakses pada tanggal 18/06/2015 pukul 15.23 WIB).

 

http://www.korea.net/NewsFocus/Policies/view?articleId=124960 (diakses pada tanggal 18/06/2015 pukul 14.15 WIB).

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24304/1/Noor%20Rahmah%20Yulia_108083000080.pdf (diakses pada tanggal 18/06/2015 pukul 14.20 WIB).


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...