Tulisan ini saya buat pada 21 Juni 2015.
A.Profil
Singkat
B.Aspek
Geografis
Wilayah
Arab Saudi mencakup sebagian besar Jazirah Arabia dan luasnya lebih dari tiga kali luas Texas, yakni
2.149.690 km
persegi dan terdiri dari 13 provinsi (Bahah, Hududusy, Syamaliyah, Jauf,Madinah,Qasim,Riyadh,Syarqiyah (Provinsi Timur), 'Asir,Ha'il,Jizan,Makkah,Najran dan Tabuk. Arab Saudi merupakan negara dengan banyak hal yang kontras,dengan dataran pantai,gunung tinggi,beberapa pertanian yang subur,dan padang pasir tandus yang luas.Disebelah barat,yang terbentang sekitar 1.600 km di sepanjang laut merah,terdapat suatu dataran pantai yang sempit,Tihama.Dari dataran ini tiba-tiba muncul
gunung-gunung yang tinggi dengan ketinggian berkisar antara 1.200 smpai 3.650 m. Daerah bagian barat arab
saudi meliputi hejaz (atau hijaz), yakni daerah pesisir barat semenanjung arab
yang didalamnya terdapat kota-kota diantara adalah Mekkah,Madinah dan Jeddah.Kemudian
ada daerah asir ; daerah tengahnya disebut Najd (Nejd) ; yakni daerah daerah
gurun sampai pesisir timur semenanjung arabia dan daerah timur dikenal sebagai
Provinsi Timur .
Ketika
musim panas,cuaca menjadi panas dan kering dengan suhu yang meningkat sampai
lebih 38◦C dan pada malam hari suhu tersebut turun dengan tajam. Arab
saudi berbatasan dengan Mesir,Yordania,Kuwait,Teluk Persia,Bahrain,Qatar,Uni
Emirat Arab, Oman,Laut Arabia,Yaman dan Laut Merah.
C.
Aspek
Demografis
Menurut
CIA Factbook, etnis di Arab Saudi terdiri dari 90% Arab dan 10% Afro-Asia. mayoritas
penduduk Arab Saudi beragama Muslim yang terdiri dari 85-90% muslim Sunni dan
10-15% muslim Syiah, lainnya (termasuk Ortodoks Timur, Protestan, Katolik Roma,
Yahudi, Hindu, Budha, dan Sikh) dengan jumlah
keseluruhan polpulasi Arab Saudi 27.345.986 .
Di daerah-daerah
industri di Arab Saudi juga banyak dijumpai penduduk dari negara-negara lain
sebagai kontraktor dan pekerja asing (ekspatriat).
Jumlah urbanisasi di Arab Saudi yakni 82.3% dari
total populasi dengan area umum urbanisasi yakni Riyadh 4.725 juta orang ;
Jeddah 3.234 juta orang; Mecca 1.484 juta orang dan Medina 1.104 juta orang .
Bahasa Arab adalah bahasa resmi dan Islam adalah agama negara.[4]
D.
Aspek
Ideologi
Menurut
aspek ideologi,Arab Saudi dalam sejarahnya telah menggunakan paham Islam aliran
Wahabi dan Salafi yang digunakan dalam
segala aspek kehidupan di Arab Saudi. Doktrin utama dari Wahabi adalah
Tauhid,Keesaan dan Kesatuan Allah. Hal
ini bermula pada abad ke-18,seorang pembaharu agama,Muhammad ibnu
al-Wahhab,mengadakan suatu gerakan untuk memurnikan Islam dan ingin mengembalikannya
ke bentuk semula.Dengan bantuan para pangeran keluarga Saudi,gerakan ini segera
tersebar ke sebagian besar wilayah Arab.Penguasa Bani Usmnani yang
mengkhawatirkan kelestarian kekuasaannya di Mekah,mengirimkan pasukan untuk
menghancurkan orang-orang Saudi itu.Walaupun pihak Saudi untuk sementara
ditaklukan pada tahun 1818,mereka dan sekutu pembaharu agama mereka berjalan
terus. Pada tahun 1902,Abd al-aziz Ibnu Saud (sering disebut “ibnu saud”)
merebut kembali ibukota keluarga tersebut,Riyadh. Raja Abdul al-aziz mendirikan
Arab Saudi modern.Ia mengusir Bani Usmani dari daerah timur,menaklukan Hejaz
dan Asir,dan pada tahun 1926 menguasai lebih dari tiga perempat Jazirah Arabia.
Daerah-daerah ini dipersatukan pada tahun 1932 dan nama “Kerajaan Arab Saudi”
diberikan kepada negara baru ini.setelah kematian Ibnu Saud pada tahun 1953,ia digantikan
oleh empat putranya-Saud (1953),Faisal (1964),Khalid (1975) dan Fahd (1982).[5]
E. Aspek Identitas
: Ashabiyah, Wathaniyah, Qaummiyah,
Ummah
Ashabiyah
Ashabiyah
Ashabiyah adalah faham untuk lebih mengutamakan kesetiaan terhadap keluarga tertentu. Sesuai
dengan sejarah dan nama dari Arab Saudi.Hal ini dapat terlihat dari
kepemimpinan keluarga Saud di Arab Saudi dan menjadi keluarga utama di Arab
Saudi.Dengan berlandaskan paham Wahabi,keturunan-keturunan dari Bani Saud
memimpin dan memiliki kekuasan yang sangat besar di negara ini.
Wathanniyah
Wathanniyah adalah kesetiaan terhadap negara-bangsa (nation-state) tertentu. Ekspresi semangat Wathaniyah Arab Saudi dapat terlihat dari intervensi Arab Saudi di Yaman pada tahun 2009 dan kembali mengintervensi Yaman tahun 2015 dengan alasan serangan atas kelompok pemberontak Syiah Houthi untuk membela pemerintahan yang sah yang dipimpin Presiden Mansour Hadi[7]. Tindakan Arab Saudi menyerang Yaman ini mendapat kecaman dari berbagai pihak seperti Iran dan PBB,namun sebaliknya mendapat dukungan dari sekutunya Amerika.
Wathanniyah adalah kesetiaan terhadap negara-bangsa (nation-state) tertentu. Ekspresi semangat Wathaniyah Arab Saudi dapat terlihat dari intervensi Arab Saudi di Yaman pada tahun 2009 dan kembali mengintervensi Yaman tahun 2015 dengan alasan serangan atas kelompok pemberontak Syiah Houthi untuk membela pemerintahan yang sah yang dipimpin Presiden Mansour Hadi[7]. Tindakan Arab Saudi menyerang Yaman ini mendapat kecaman dari berbagai pihak seperti Iran dan PBB,namun sebaliknya mendapat dukungan dari sekutunya Amerika.
Qaummiyah
Qaummiyah adalah kesetiaan terhadap sesama suku.Qaummiyah di Arab Saudi dapat dilihat dimana Arab Saudi termasuk dalam negara-negara pendiri Liga Arab yang berdiri sejak 22 Maret 1945.Tujuan dari Liga Arab ini ialah untuk mempererat persahabatan Bangsa Arab,memerdekakan negara di kawasan Arab yang masih terjajah,mencegah berdirinya negara Yahudi di daerah Palestina dan membentuk kerjasama dalam bidang politik,militer dan ekonomi[8].
Qaummiyah adalah kesetiaan terhadap sesama suku.Qaummiyah di Arab Saudi dapat dilihat dimana Arab Saudi termasuk dalam negara-negara pendiri Liga Arab yang berdiri sejak 22 Maret 1945.Tujuan dari Liga Arab ini ialah untuk mempererat persahabatan Bangsa Arab,memerdekakan negara di kawasan Arab yang masih terjajah,mencegah berdirinya negara Yahudi di daerah Palestina dan membentuk kerjasama dalam bidang politik,militer dan ekonomi[8].
Ummah
Ummah adalah kesetiaan terhadap sesama pemeluk agama tertentu tanpa membedakan asal muasal keluarga,kesukuan dan negara bangsa. Praktek dari Ummah di Arab Saudi ialah dukungan Arab Saudi terhadap kemerdekaan Palestina dengan memberikan bantuan aktiv pada perang Arab-Israel 1967. Dukungan ini berlandaskan persamaan agama yakni Islam.
Ummah adalah kesetiaan terhadap sesama pemeluk agama tertentu tanpa membedakan asal muasal keluarga,kesukuan dan negara bangsa. Praktek dari Ummah di Arab Saudi ialah dukungan Arab Saudi terhadap kemerdekaan Palestina dengan memberikan bantuan aktiv pada perang Arab-Israel 1967. Dukungan ini berlandaskan persamaan agama yakni Islam.
F.
Potensi Krisis (Legalitas,
Ekualitas
dan Kontinuitas)
Pemerintahan di Arab Saudi yang
otoriter banyak menuai kecaman dari luar negeri maupun dalam negeri.Namun
secara garis besar, peran negara yang begitu besar dan posisinya sebagai negara
pengekspor minyak terbesar membuat Arab Saudi bisa dikatakan termasuk dalam
negara yang cukup stabil di Timur Tengah.
a. Krisis Legalitas Kepemimpinan raja Arab Saudi dari keluarga Saud hingga saat ini bisa dikatakan masih begitu kuat jika dibanding dengan kepemimpinan di negara-negara Timur tengah lainnya yang cenderung mudahberganti pasca Arab Spring. Namun, rakyat Arab Saudi sendiri menuntut diberlakukannya reformasi pemerintahan. Pemerintah dinilai tidak transparan, korupsi terjadi tidak hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan tapi juga oleh seluruh lapisan birokrasi pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya tingkat kekecewaan rakyat Arab Saudi terhadap pemerintah yang ditujudkan dalam bentuk aksi demonstrasi hingga aksi bom bunuh diri yang mengancam keamanan warga asing dan yang terpenting mengancam keamanan dan terror bagi warga Arab Saudi sendiri. Disamping itu, Tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi yang semakin menurun dan ditambah dengan angka pengangguran yang tinggi semakin membuat rakyat Arab Saudi mendesak para pemimpin untuk melakukan perubahan di Arab Saud[9].
Pada tahun 2005,dibawah kepemimpinan Raja Abdullah Bin Abdul Aziz,Arab Saudi banyak melakukan perubahan seperti ; Melakukan pemilihan umum meski hanya untuk dewan kota,namun di Arab Saudi tetap tidak ada partai politik yang bertindak sebagai oposisi dan yang kedua ialah dibentuknya Komisi Perlindungan Hak Asasi Manusia,tetapi belum dapat menjamin hak-hak asasi rakyat Arab Saudi sehingga reformasi belum dapat terjadi dikarenakan kekuasaan pemerintah yang begitu kuat.[10]
b. Krisis Ekualitas
Arab Saudi menempati posisi pertama eksportir terbesar minyak bumi dan memainkan peran utama dalam OPEC.,dimana sektor minyak menyumbang 45 % dari pendapatan negara, 45% dari PDRB dan 90% dari penghasilan ekspor[11]. Namun tingkat pengangguran di negara ini cukup besar dimana pada tahun 2012 terdapat 10,7% pengangguran yang disebabkan kurangnya pendidikan dan ketrampilan teknis yang dibutuhkan oleh sektor swasta[12]. Secara keseluruhan,kesenjangan dalam hal tingkat perekonomian dalam negeri tidak begitu besar dimana pemerintah Arab Saudi dengan gencar memberikan pengeluaran yang cukup besar untuk pelatihan dan pendidikan guna meningkatakan perekonomian bagi masyarakat Arab Saudi. Kemudian terkait kesempatan berpolitik antar warga negara yang masih belum terealisasi dikarenakan sistem pemerintahan yang otoriter tidak lantas membuat stabilitas politik Arab Saudi terganggu.
C.Krisis Kontinuitas
Krisis Kontinuitas adalah kondisi saat sebuah Negara rawan dijatuhkan atau digulingkan dengan cara-cara yang tidak demokratis,seperti pemberontakan, kudeta dan revolusi atau oleh pengaruh Luar Negeri seperti Intervensi dan campur tangan asing. Dalam perspektif ini,Arab Saudi bisa dikatakan masih dalam kondisi yang cukup aman mengingat kekuasaan dan pengaruh pemerintah yang masih begitu kuat.Alasan lain ialah aliansi yang cukup solid dengan Amerika Serikat yang dapat menjaga eksistensi para pemimpin Arab Saudi,baik di dalam negeri maupun dikawasan Timur Tengah sehingga akan sulit mendapatkan intervensi dari negara lain.
a. Krisis Legalitas Kepemimpinan raja Arab Saudi dari keluarga Saud hingga saat ini bisa dikatakan masih begitu kuat jika dibanding dengan kepemimpinan di negara-negara Timur tengah lainnya yang cenderung mudahberganti pasca Arab Spring. Namun, rakyat Arab Saudi sendiri menuntut diberlakukannya reformasi pemerintahan. Pemerintah dinilai tidak transparan, korupsi terjadi tidak hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan tapi juga oleh seluruh lapisan birokrasi pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya tingkat kekecewaan rakyat Arab Saudi terhadap pemerintah yang ditujudkan dalam bentuk aksi demonstrasi hingga aksi bom bunuh diri yang mengancam keamanan warga asing dan yang terpenting mengancam keamanan dan terror bagi warga Arab Saudi sendiri. Disamping itu, Tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi yang semakin menurun dan ditambah dengan angka pengangguran yang tinggi semakin membuat rakyat Arab Saudi mendesak para pemimpin untuk melakukan perubahan di Arab Saud[9].
Pada tahun 2005,dibawah kepemimpinan Raja Abdullah Bin Abdul Aziz,Arab Saudi banyak melakukan perubahan seperti ; Melakukan pemilihan umum meski hanya untuk dewan kota,namun di Arab Saudi tetap tidak ada partai politik yang bertindak sebagai oposisi dan yang kedua ialah dibentuknya Komisi Perlindungan Hak Asasi Manusia,tetapi belum dapat menjamin hak-hak asasi rakyat Arab Saudi sehingga reformasi belum dapat terjadi dikarenakan kekuasaan pemerintah yang begitu kuat.[10]
b. Krisis Ekualitas
Arab Saudi menempati posisi pertama eksportir terbesar minyak bumi dan memainkan peran utama dalam OPEC.,dimana sektor minyak menyumbang 45 % dari pendapatan negara, 45% dari PDRB dan 90% dari penghasilan ekspor[11]. Namun tingkat pengangguran di negara ini cukup besar dimana pada tahun 2012 terdapat 10,7% pengangguran yang disebabkan kurangnya pendidikan dan ketrampilan teknis yang dibutuhkan oleh sektor swasta[12]. Secara keseluruhan,kesenjangan dalam hal tingkat perekonomian dalam negeri tidak begitu besar dimana pemerintah Arab Saudi dengan gencar memberikan pengeluaran yang cukup besar untuk pelatihan dan pendidikan guna meningkatakan perekonomian bagi masyarakat Arab Saudi. Kemudian terkait kesempatan berpolitik antar warga negara yang masih belum terealisasi dikarenakan sistem pemerintahan yang otoriter tidak lantas membuat stabilitas politik Arab Saudi terganggu.
C.Krisis Kontinuitas
Krisis Kontinuitas adalah kondisi saat sebuah Negara rawan dijatuhkan atau digulingkan dengan cara-cara yang tidak demokratis,seperti pemberontakan, kudeta dan revolusi atau oleh pengaruh Luar Negeri seperti Intervensi dan campur tangan asing. Dalam perspektif ini,Arab Saudi bisa dikatakan masih dalam kondisi yang cukup aman mengingat kekuasaan dan pengaruh pemerintah yang masih begitu kuat.Alasan lain ialah aliansi yang cukup solid dengan Amerika Serikat yang dapat menjaga eksistensi para pemimpin Arab Saudi,baik di dalam negeri maupun dikawasan Timur Tengah sehingga akan sulit mendapatkan intervensi dari negara lain.
[3] (2000). Negara dan
Bangsa . Dalam I. Grolier International, Asia Jilid 3 (hal. 29).
Jakarta: PT.Widyadara.
[4] (2000). Negara dan Bangsa. Dalam I. Grolier
International, Asia Jilid 3 (hal. 30). Jakarta: PT.Widyadara.
[5] (2000). Negara dan Bangsa. Dalam I. Grolier
International, Asia Jilid 3 (hal. 34). Jakarta: PT.Widyadara.
[9]
http://repository.upnyk.ac.id/1633/
Referensi
(2000). Negara dan Bangsa. Dalam I. Grolier
International, Asia Jilid 3 (hal. 34). Jakarta: PT.Widyadara.
(2000). Negara dan Bangsa . Dalam I. Grolier
International, Asia Jilid 3 (hal. 29). Jakarta: PT.Widyadara.
Jatmika, S. (2014). Pengantar Studi Kawasan Timur
Tengah. Yogyakarta: Maharsa Publishing House .
Jeddah, I. (2013). Market Brief. Jeddah:
Kementrian Perdagangan Republik Indonesia.
Nurzaman, S. S. (2008). TEORI BASIS EKSPOR MASA KINI
DI ARAB SAUDI. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota,, 63.
http://repository.upnyk.ac.id/1633/





Komentar