Langsung ke konten utama

Contoh Isu-Isu Advokasi : Studi Kasus HIV AIDS di Indonesia

Rencana Advokasi Kebijakan terhadap Vulnerable Grups : studi Kasus HIV AIDS di Indonesia


HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan kekebalan tubuh tidak bisa bekerja efektif seperti seharusnya.Sedangkan AIDS adalah kondisi atau sindrom. Terinfeksi HIV bisa membuat seseorang mengalami AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). (Kompas Health, 2015)

Menurut data WHO sebanyak 75% wanita hamil  menerima obat untuk mencegah penularan HIV terhadap bayi mereka pada tahun 2014.Ada 1,9 Juta orang baru yang terdaftar pada ART (antiretroviral treatment) pada 2014 – merupakan salah satu kenaikan tahunan terbesar yang pernah terjadi sepanjang masa.Dan sebanyak  32% dari anak-anak yang membutuhkan pengobatan pada tahun 2014 dibandingkan dengan 41% untuk orang dewasa, menunjuk ke celah besar antara layanan untuk orang dewasa dan anak-anak yang hidup dengan HIV (WHO, 2015).
     

Indonesia sendiri termasuk  Negara dengan pernyebaran HIV AIDS tercepat didunia,menempati urutan ke-3. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan Indonesia pada tahun 2014,jumlah komulatif HIV yang dilaporkan sebanyak  150,296 penderita dan AIDS 55,799 penderita dan total jumlah kematian orang yang mengidap HIV AIDS sebanyak 9,796.Data disamping merupakan data kumulativ HIV AIDS berdasarkan provinsi di Indonesia (RI, 2014)

1 Desember ialah peringatan hari AIDS sedunia,pada hari ini dapat dijadikan sebagai momen untuk kembali mengingatkan bahaya HIV AIDS terhadap masyarakat awam.

Program Kerja/Tujuan Advokasi yang ingin dicapai:


  1. Mengurangi resiko penularan HIV dan melindungi mereka yang telah terjangkit : Memberikan penyuluhan atau sosialisasi tentang HIV AIDS,baik di sekolah,komunitas dan lain-lain. Risiko tertinggi penularan HIV diketahui berasal dari perilaku — termasuk penggunaan jarum suntik (penasun) dan seks yang tidak terlindungi — dan dari ibu yang terjangkit ke anak mereka dan selama persalinan.Khusus untuk wanita,perlu dilakukan pelayanan tes dan  konseling yang proaktiv.Hal ini bertujuan untuk mendukung kegiatan pencegahan HIV dikalangan perempuan usia subur dan mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dikalangan perempuan yang hidup dengan HIV.Berdasarkan data kementrian kesehatan sejak tahun 1987-2014,Ibu rumah tangga adalah penderita tertinggi di indonesia dengan 6.539 kasus.Tujuan utama memberikan penyuluhan tentang HIV AIDS ialah mengurangi bahkan menghapus stigma masyarakat yang kurang baik terhadap ODHA (orang dengan HIV AIDS).
  2. Mendirikan Rumah Sakit khusus atau tempat khusus untuk penderita HIV AIDS ; di Indonesia masih banyak rumah sakit yang tidak ingin menerima pasien dengan HIV sehingga penangan pasien masih belum maksimal.Tujuan lain dengan adanya rumah sakit khusus HIV ialah dapat mencegah penularan HIV melalui alat-alat kesehatan.
  3. Diperlukan advokasi terkait harga obat dan perbaikan sistem distribusi ARV (Antiretroviral); Saat ini rata-rata harga obat ARV yang dikonsumsi mencapai 10 juta rupiah setiap orang perbulan,jumlah yang besar bagi pasien dengan penghasilan rendah,tentu saja hal ini cukup membebani.Harga obat yang cukup mahal semakin diperburuk dengan minimnya akses terhadap obat ARV.ARV dapat memperkecil tingkat kematian penderita,dimana kematian akibat AIDS dari 2,8% di tahun 2011 berkurang menjadi 1,6% pada tahun 2012.Perlu diketahui bahwa ARV harus dikonsumsi secara berkelanjutan.




Contohnya seperti yang dilakukan LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC). LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC) adalah sebuah organisasi berbasis komunitas yang bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan transparansi , akuntabilitas dan partisipasi masyarakat dalam program AIDS.Program kerja dari IAC antara lain : Kampanye #ODHABerhakSehat , Group Monitoring ARV di Facebook, Portal digital layanan AIDS dan IMONITOR+ (aplikasi mobile untuk membantu layanan kesehatan jika terjadi ARV stock out dll). (ODHA Berhak Sehat, 2015).

Indonesia AIDS Coalition (IAC) mendesak pemerintah agar mengeluarkan berbagai regulasi terkait perdagangan obat seperti murahnya harga obat ARV di Indonesia. Berdasarkan  data  LSM  IAC, obat  ARV  jenis Duviral generic lokal dijual seharga Rp 205 ribu sementara harga duviral generic import hanya Rp 89 ribu untuk konsumsi satu bulannya.Ada beberapa alasan harga obat di Indonesia relatif jauh lebih mahal dibanding negara lain :

  1. Permasalahan yang pertama ialah ganjalan kebijakan hak patent.IAC berusaha mendesak pemerintah agar menggunakan mekanisme government use of patent sehingga pemerintah bisa menunjuk produsen farmasi local untuk memproduksi versi generiknya. Jika pemilik patent tetap bersikeras menjual dengan harga mahal, maka pemerintah perlu bertindak tegas dengan mengambil alih hak patentnya.
  2. Persoalan kedua adalah masih dikenakan pajak yang tinggi bagi komponen obat. Mayoritas bahan aktif obat (API/Active Pharmaceutical Ingredients) dari obat generic yang diproduksi di Indonesia masih import sehingga ditambah komponen pajaknya membuat harga obat jauh lebih mahal dari obat sejenis di luar negeri.IAC mendesak pemerintah untuk menghapuskan pajak ini dan juga memberikan insentif agar produsen obat lokal mau dan mampu memproduksi bahan aktif obat sendiri.
  3. Persoalan ketiga ialah praktik kick back money antara dokter dan sales obat yang sudah menjamur dan menjadi praktek yang nyata meskipun selalu disangkal. IAC juga mendesak pemerintah agar menyikapi dengan tegas jika mendapati praktek kick back money antara dokter dan sales obat. Pemerintah juga diharapkan membuat regulasi yang tegas untuk mengatur harga obat yang masuk dipasaran Indonesia sehingga produsen obat tidak semena-mena menaruh harga bagi obat dagangannya. (Tribun, 2014)







Referensi

Kompas Health. (2015). Retrieved from Kompas: http://health.kompas.com/read/2015/12/01/070000623/Apa.Beda.antara.HIV.dan.AIDS.

ODHA Berhak Sehat. (2015). Retrieved from http://www.odhaberhaksehat.org/2015/press-release-09062015-stok-obat-arv-kosong-nyawa-odha-di-ambon-dan-klaten-terancam/

RI, K. K. (2014). Retrieved from http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf

Tribun. (2014). Aktivis AIDS Minta Jokowi Atur Regulasi Perdagangan Obat. Retrieved from TribunKesehatan: http://www.tribunnews.com/kesehatan/2014/12/12/aktivis-aids-minta-jokowi-atur-regulasi-perdagangan-obat

WHO. (2015). World Healt Organization. Retrieved from http://www.who.int/hiv/data/en/




Komentar

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...