Langsung ke konten utama

Indonesia - Penyelesaian Konflik Semenanjung Korea

INDONESIA DALAM MEMBANTU KOREA SELATAN TERKAIT PENYELESAIAN KONFLIK 
SEMENANJUNG KOREA

Pendahuluan

Konfik yang terjadi di Semenanjung Korea yang berawal dari perbedaan ideologi yang dianut setelah perang dunia ke-2,dimana Korea Utara memilih menggunakan ideologi Komunisme dan Korea Selatan memilih untuk menggunakan ideologi demokrasi-liberal merupakan salah satu konflik internasional yang hingga saat ini belum menemui titik temu.Bahkan salah satu dampak dari adanya konflik ini adalah perang korea yang merupakan salah satu perang saudara terburuk didunia yang memakan jutaan korban antar kedua negara.Persaingan antar kedua negara dalam berbagai bidang terus berlanjut hingga saat ini walaupun dalam kenyataannya Korea Selatanlah yang semakin membaik khususnya dalam bidang ekonomi.
Hubungan Indonesia sendiri dengan kedua negara sejak masa pemerintahan Sukarno hingga SBY cukup baik,walaupun pada awalnya Indonesia lebih dekat dengan Korea Utara , namun sejak kepemimpinan orde baru,hubungan Indonesia dengan Korea Selatan perlahan mulai membaik dan hingga saat ini kedua negara telah menjalin hubungan diplomatik yang begitu akrab.
Dengan adanya hubungan Indonesia-Korea Selatan bukan hanya berpengaruh pada bidang diplomatik saja namun juga pada berbagai bidang mulai dari sosial-ekonomi,budaya dan tentu saja politik.Dari kerjama antar kedua negara dalam bidang politik,Indonesia dengan politik luar negeri Bebas Aktif dan kedekatan dengan kedua negara ini dipercaya Korea Selatan dalam penyelesaian masalah semenanjung Korea dengan harapan besar dari Korea Selatan agar Indonesia menyelenggarakan JIM (Jakarta Informal Meeting) yang ke-dua yang membahas kasus semenanjung korea.Dan diharapkan hasil dari JIM yang ke-2 ini dapat menjadi solusi konflik semenanjung korea.

Pembahasan

Sejarah Konflik Korea
Dalam sejarahnya,Jepang pada tahun 1910 pernah menduduki kerajaan Chosun (sekarang dikenal sebagai Korea) yang sekaligus mengakhiri kekaisaran Korea.Pada tahun 1945 diakhir perang dunia ke-2 tentara Uni Soviet menduduki bagian utara Korea sedangkan tentara Amerika Serikat menduduki bagian selatan Korea.Setelah tiga tahun berada dalam masa pengawasan negara pemenang perang,semenanjung Korea memiliki dua pemerintahan yang berbeda ideologinya.Pada tahun 1948 Kim Il Sung mendirikan pemerintahan komunis dengan nama Republik Rakyat Demokrat Korea (Korea Utara) sedangkan Rhee Syng-Man memberikan pemerintahan pro Amerika Serikat dengan nama Republik Korea (Korea Selatan) pada tahun yang sama. (Mas'oed, 2005)



Adanya kedua pemerintahan di Korea menyebabkan terjadinya ketegangan antara kedua pihak yang pada tanggal 25 juni 1950,Korea Utara menyerang Korea Selatan dan mengakibatkan terjadinya perang Korea. Perang Korea tejadi selama tiga setengah tahun merupakan perang saudara yang paling keji dalam sejarah dunia (Mas'oed, 2005).
Atas bantuan PBB pada tahun 1953 pertempuranpun diakhiri dengan gencatan senjata.Hingga saat ini perundingan yang dilakukan berbagai pihak terutama yang diinisiasi oleh Korea selatan selalu gagal dilaksanakan.

Politik “Bebas-Aktif” Indonesia
Pengertian politik luar negeri secara umum Menurut J Frankel merupakan pencerminan dari kepentingan nasional yang ditujukan ke luar negeri, yang tidak terpisah dari keseluruhan tujuan nasional, dan tetap merupakan komponen atau unsur dari kondisi dalam negeri.Setiap negara memiliki Politik luar negerinya masing-masing,Indonesia sendiri memiliki politik luar negeri yang dikenal sebagai politik luar negeri “Bebas Aktif” yang sikap politik luar negeri yang tidak terikat oleh suatu ideologi/tidak masuk blok negara asing tertentu dan secara aktiv mengambil prakarsa dalam mengembangkan persahabatan dan kerjasama internasional (Elzabar, 2012).

Hubungan Indonesia dan Korea Selatan
Walupun politik luar negeri Indonesia dikenal dengan politik luar negeri “Bebas aktif” namun pada mulainya (era Sukarno)  hubungan Indonesia dan Korea Selatan kurang begitu baik dikarenakan Indonesia di bawah kepemimpinan Sukarno lebih condong ke Korea Utara yang menganut ideologi komunis.Hal ini lebih disebabkan karena masalah intern dimana pada saat itu Sukarno lebih banyak di pengaruhi oleh PKI (Partai komunis Indonesia).Setelah Sukarno digantikan Suharto,Suharto yang dikenal lebih pro terhadap Amerika  Serikat mulai mendekati Korea Selatan untuk membuka peluang bagi jalinan kerjasama antar kedua negara yang diawali dalam bidang diplomatik yang juga didukung oleh Korea Selatan dengan “usaha mendekati dunia ketiga” yang mana pada tanggal 1 Desember 1966 dibuka kantor Konsulat Jenderal  Republik Korea di Jakarta (Seung-Yoon, 2005).
Usaha yang cukup keras antara Indonesia dan Korea Selatan dalam membangun hubungan diplomatik membuahkan hasil yang cukup memuaskan karena seiring dengan berjalannya waktu kedua Negara ini kemudian saling menyetujui hubungan kenegaraannya dari tingkat konsuler ke tingkat diplomatic penuh pada tanggal 18 september 1973 yang membuat dibukanya Kedutaan Besar Republic Korea (KBRK) dan Kedutaan Besar Republic Indonesia (KBRI) dan hubungan diplomatic penuh pun secara resmi dimulai dari bulan Agustus 1978.
Seiring dengan dibukanya kedutaan besar antar kedua Negara,sering diadakannya serangkaian pertemuan puncak antara Indonesia dan Korea selatan yang membicarakan berbagai macam bentuk kerjasama  dalam bidang politik,teknologi maupun ekonomi yang saling menguntungkan kedua Negara. Masalah ideology yang dianut para pemimpin Negara yang awalnya menjadi penghalang selama dua dasawarsa dalam kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan kini sudah tidak menjadi masalah bagi kedua belah pihak karena saat ini telah tercipta hubungan politik-diplomatik yang saling ketergantungan dan hubungan win win atau saling mengisi antara Indonesia dan Korea Selatan selama lebih dari 40 tahun ini.

Upaya Indonesia Terkait Permasalahan Konflik Korea
Seiring dengan semakin eratnya hubungan antara Indonesia-Korea Selatan dalam berbagai bidang,pemerintah Korea Selatan dalam berbagai kesempatan meminta pemerintah Indonesia untuk menjembatani perbaikan hubungan antar Korea dengan meminta kesediaan Korea Utara untuk memulai dialog antar Korea. Lebih jauh lagi Korea Selatan menginginkan agar kemajuan hubungan antar Korea itu dapat lebih memberi keuntungan bagi Korea Utara dengan dinormalisasikannya hubungan antara Korea Utara dan Amerika Serikat (Seung-Yoon, 2005).
Selain itu juga pemerintah Korea Selatan dibawah kepemimpinan Kim Young-Sam meminta kepada Indonesia agar menyampaikan usulan mengenai pertemuan empat negara (Korea Utara,Korea Selatan,Amerika Serikat dan China) kepada pemerintah Korea Utara. Permintahan pemerintah Korea Selatan terhadap Indonesia terkait konflik Korea ini dikarekanan hubungan diplomatik Indonesia dengan Korea Utara sendiri dikenal cukup baik.
Menanggapi permintaan pemerintah Korea Selatan,pemerintah Indonesia yang saat itu dibawah kepemimpinan Megawati Sukarno Putri pada saat kunjungan ke Korea,beliau sebelum berkunjung ke Korea Selatan terlebih dulu berkunjung ke Korea Utara pada tanggal 28-30 maret 2002.Dalam kunjungannya Megawati menyampaikan secara langsung kepada presiden Korea Utara,Kim Jong Il,keinginan Korea Selatan untuk memajukan hubungan antar-Korea dan dalam wawancaranya dengan para wartawan di Seoul pada tanggal 30 maret 2002,Megawati menyampaikan bahwa permintaan tersebut ditanggapi secara positif oleh Kim Jong-Il.Dan walaupun usaha Indonesia dalam menyampaikan permintaan Korea Selatan terhadap Korea Utara namun secara tidak langsung pada tanggal 15 Agustus 2002,diadakan proyek mempertemukan keluarga terpisah oleh Korea Selatan dan Utara yang berlangsung di Seoul dan di Pyongyang.Mereka yang selama 50 tahun benar-benar saling merindukan dapat bertemu kembali (Mas'oed, 2005).
Menurut liputan6.com dalam pertemuan Forum Demokrasi Bali (BDF) III, yang berlangsung di Nusa Dua pada 9-10 Desember 2010 lalu, Menteri Luar Negeri Marty M. Natalegawa menyatakan, Indonesia siap menjadi fasilitator penyelesaian damai atas konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan di Semenanjung Korea.
Pemerintah Korea Selatan sendiri begitu mengharapkan Indonesia untuk dapat melaksanakan JIM (Jakarta Informal Meeting) yang ke-dua.Pelaksanaan JIM  yang pertama masalah yang dibahas adalah terkait konflik empat partai di vietnam dan hasilnya cukup baik.Untuk itulah pemerintah Korea Selatan meyakini bahwa JIM dapat digunakan sebagai jalan keluar permasalahan semenanjung Korea. Sebelumnya pada tanggal 16 agustus 2012 ketika ditanya apakah ada rencana untuk mempersiapkan JIM ke-2,Menteri Luar Negeri Indonesia,Marty Natalegawa mengatakan bahwa dia sedang menunggu hasil pertemuan enam negara dan akan melantik duta besar yang berkuasa penuh dan berkemampuan dalam menangani permasalahan semenanjung Korea. Namun hingga saat ini realisasi JIM yang ke-2 belum dapat terlaksana.
Peran indonesia dalam membantu Korea Selatan terkait penyelesaiam konflik Semenanjung Korea bukan hanya akan berdampak pada membaiknya hubungan antara kedua negara,keamanan regional dan juga keamanan global.Hal ini dikarenakan adanya senjata pemusnah masal (nuklir) yang dikembangkan oleh kedua negara terutama rudal yang dimiliki Korea Utara yang sangat berbahaya bagi seluruh kehidupan di Bumi.Selain itu juga dengan turut berperan dalam penyelesaian konflik korea, Indonesia dapat melaksanakan salah satu tujuan politik luar negeri nya (“ikut melaksanakan ketertiban dunia...” ) serta dapat  menunjukan eksistensi dan keahlian diplomasi Indonesia di kancah Internasional.


Kesimpulan
Konflik Semenanjung Korea yang berlangsung selama puluhan tahun yang berawal dari perbedaan  ideologi dan menjadi salah satu isu global dewasa ini membuat diperlukannya mediator yang dapat menjembatani kedua Negara.Dan Indonesia merupakan salah satu kandidat terkuat sebagai mediator antar kedua negara.Hal ini dikarenakan adanya hubungan baik Indonesia dengan Korea Utara maupun dengan korea selatan yang sejalan dengan politik luar negeri bebas aktiv indonesia yang bersifat netral.
Namun sejauh ini peran  Indonesia dalam membantu  penyelesaian  konflik di semenanjung korea belum begitu besar walaupun  secara umum  Korea Selatan dan Utara percaya pada Indonesia.Hal ini membuktikan bahwa politik luar negeri Indonesia bebas aktiv hingga saat ini relevan dengan perkembangan jaman namun dalam  prakteknya saat ini pemerintah Indonesia nampak berhati-hati dalam  mengambil keputusan terkait permasalahan konflik Korea.Sehingga peran diplomasi Indonesia dalam konflik semenanjung Korea belum dapat menunjukan eksistensinya.Hingga saat ini diharapkan  adanya penyelesaian dalam konflik semenajung korea yang mana saat ini kesepakatan yang dilakukan hanya berupa genjatan senjata  bukan perjanjian resmi yang tidak menjamin perdamaian dikarenakan sewaktu-waktu dapat terjadi perang kembali.


Daftar Pustaka/Referensi

 

Elzabar, S. (2012). Kamus Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Utama.
Mas'oed, M. (2005). Memahami Politik Korea. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Seung-Yoon, Y. (2005). 40 Tahun Hubungan Indonesia-Korea Selatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...