Langsung ke konten utama

Konflik Crimea

Diplomasi Amerika Serikat Terkait Konflik Crimea dibawah Pemerintahan Barack Obama



Konflik yang terjadi di Crimea,Ukraina telah menjadi salah satu isu internasional yang banyak menyita perhatian berbagai negara-negara di dunia.Intervensi militer Rusia di Crimea mendapat pertentangan dari berbagai negara di dunia khususnya Uni Eropa dan Amerika Serikat.Berbagai usaha telah dilakukan oleh Uni Eropa dan Amerika dalam membantu penyelesaian konflik Crimea.Konflik Crimea berawal sejak November tahun 2013. 

 Pada saat itu, Viktor Yanukovych sebagai Presiden Ukraina secara mengejutkan membatalkan kontrak perjanjian European Association Agreement dengan uni eropa dan lebih memilih bekerjasama dengan Rusia.keputusan Presiden Viktor Yanukovych membuat mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di ibukota Kiev dan menuntut Presiden Viktor Yanukovych mundur,Demonstrasi ini berakhir rusuh dan menyebabkan 77 demonstran meninggal,600 orang luka-luka dan beberapa lainnya hilang[1].Demonstrasi di Kiev yang mendukung pemecatan mantan Presiden Viktor Yanukovych mendapat pertentangan di Semenanjung Crimea.Mayoritas penduduk crimea yang 60% nya berbahasa Rusia menentang pemerintahan yang baru dan menyatakan pro-Rusia[2].Konflik internal yang terjadi di ukraina  memberikan celah terhadap Rusia untuk mengintervensi Crimea dan memasukan Crimea kedalam wilayahnya.
Dalam usaha penyelesaian konflik Crimea yang dilakukan negara-negara di dunia khususnya Amerika,ada hal menarik dalam politik luar negeri Amerika. Amerika dibawah pemerintahan Barack Obama lebih memilih menggunakan Soft Diplomacy pada kasus Crimea dari pada Hard Diplomacy yang biasa digunakan dalam politik luar negerinya seperti yang pernah dilakukan pada negara-negara di Timur Tengah.

Mengapa Amerika Serikat tertarik untuk ikut campur dalam konflik Crimea?Apa upaya diplomasi yang dilakukan Amerika Serikat dalam konflik Crimea dibawah pemerintahan  Presiden Obama?


Politik Luar Negeri Amerika era Obama
Politik luar negeri Amerika era Obama lebih mengutamakan Smart Power,dimana Amerika berkomitmen untuk menggunakan berbagai alat kebijakan luar negeri secara lebih luas, termasuk diplomasi, pembaruan ekonomi, bantuan pembangunan,pendidikan dan menggunakan militer sebagai upaya terakhir.Politik luar negeri Amerika dibawah pemerintahan Obama lebih menekankan perlunya kerjasama diplomatik Internasional dan menawarkan dialog kepada lawan Amerika[3].

Latar Belakang Konflik Crimea
Dalam sebuah hubungan antar negara pasti akan mengalami konflik yang di sengaja maupun tidak di sengaja. Seperti halnya konflik Crimea yang melibatkan Ukraina dan Rusia.Crimea adalah daerah otonom tersendiri di Ukraina yang memiliki parlemen sendiri namun secara fisik dan politik Crimea tetap termasuk ke dalam wilayah kedaulatan Ukraina. Daerah Crimea sebenarnya bagian dari Rusia yang di hadiahkan oleh Nikita Kruschev kepada Ukraina pada masa Uni Soviet tahun 1954. Nikita Kruschev melakukan itu karena dia merupakan keturunan Ukraina dan ingin memberikan hadiah kepada Ukraina. Mayoritas penduduk di wilayah Crimea merupakan etnis asli Rusia yang cenderung mendapat diskriminasi dari pemerintahan Ukraina.  Crimea sangat penting bagi Rusia karena di sana berada pangkalan angkatan laut milik Rusia yang mana Rusia menyewa tempat dari Ukraina. Setelah Uni Soviet runtuh dan masing-masing negara memisahkan diri serta meyatakan kemerdekaannya, Crimea tetap menjadi alasan ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Kedua negara ini sebenarnya saling memiliki kepentingan yang seperti di ketahui bahwa Rusia menyewa tempat untuk angkatan lautnya di Ukraina dan Ukraina sangat bergantung pada gas yang berasal dari Rusia serta memiliki hutang yang cukup besar kepada Rusia[4].
Krisis Ukraina dimulai sejak November tahun 2013. Pada saat itu, Viktor Yanukovych sebagai Presiden Ukraina batal melakukan kesepakatan dagang dengan Uni Eropa. Presiden Viktor Yanukovych lebih memilih Rusia dan memutuskan untuk menerima hutang[5]. Rusia memberikan hutang tersebut sebagai kompensasi karena Ukraina membatalkan kerja sama dengan Uni Eropa. Pembatalan tersebut menuai kecaman dari masyarakat wilayah Barat yang menginginkan Ukraina bergabung dengan Eropa Barat dan kaum nasionalis. Melihat kehebohan tersebut Presiden Rusia Vladimir Putin mengirimkan 16.000 psukan militernya ke Semenanjung Crimea. Pasukan militer tersebut telah menguasai semua wilayah Ukraina termasuk pusat pemerintahan Ukraina.

Alasan Keterlibatan Amerika Serikat dalam Konflik Crimea
Tindakam Amerika untuk terlibat dalam konflik Crimea tentunya tidak terlepas dari kepentingan nasional Amerika sendiri,mulai dari Power,Peace,Prosperity dan Principles.Penerapan kepentingan nasional Amerika dari Instrumen Power pada kasus Crimea ialah Amerika dapat menambah aliansinya di Eropa,dengan bergabungan Ukraina dalam aliansi Amerika melalui Uni Eropa juga membuat kesempatan Ukraina untuk kembali memasukan Crimea kedalam wilayahnya semakin besar alliance against a mutual enemy”.Kedua ialah dari instrumen Peace,Amerika sebagai negara superpower yang selalu mengagungkan hak-hak asasi manusia mencoba memberikan pengaruh yang dimilikinya sehingga dapat meredam konflik berkepanjangan dengan melakukan kerjasama dengan Uni Eropa dan negara-negara lainnya melalui PBB sehingga dapat menghentikan perang dan Intervensi Rusia di Krimea. Anarchy cannot be eliminated; but can be tempered or regulated via int’l organizations, negotiations, treaties. Ketiga ialah Prosperity,Crimea yang memiliki sumber daya alam yang begitu besar seperti gas alam dan menjadi pemasok gas di negara-negara Eropa.Jika Crimea dibawah Rusia,maka dapat mengancam kepentingan sekutu Amerika khususnya  negara-negara di Eropa Barat.Keempat ialah Principles,Amerika yang selalu berusaha menyebarkan paham dan nilai-nilai demokrasi didunia,ingin agar demokrasi juga dapat diterapkan di Ukraina,terutama negara-negara eropa timur yang lebih condong ke komunisme dan sekaligus melemahkan pengaruh komunisme di Eropa.Berikut Penjelasan tentang alasan keterlibatan Amerika serikat dalam konflik crimea.

Pertentangan antara Blok Timur dan Blok Barat pada Perang Dingin sebenarnya sudah berakhir dengan ditandai runtuhnya Uni Soviet dan Amerika sebagai last man standing. Akan tetapi, benih-benih dendam masih terlihat ketika Rusia sebagai pewaris utama Uni Soviet tetap muncul sebagai musuh Amerika Serikat. Kompetisi Rusia dan Amerika Serikat melebar dalam perebutan power di kawasan Eropa. Negera Eropa Barat yang tergabung dalam North Atlantic Treaty Organization (NATO) hadir sebagai sekutu Amerika Serikat di wilayah Eropa. Sedangkan Rusia berusaha membangun kerjasama dengan negara-negara pecahan Uni Soviet. Masalah muncul ketika negara pecahan Uni Soviet lebih memilih untuk bergabung dengan NATO ketimbang dengan Rusia.
Kasus yang paling menunjukan kompetisi antara Amerika Serikat dengan Rusia sekarang adalah kasus Crimea ini. Crimea merupakan Republik Otonom Ukraina yang melakukan referendum pemisahan diri dari Ukraina. Ukraina yang ingin bergabung dalam NATO dan lebih dekat dengan Eropa Barat dan Amerika Serikat membuat Rusia melakukan counter dengan mendukung kemerdekaan Crimea dari Ukraina. Dalam masalah ini, Amerika Serikat merupakan salah satu anggota NATO, keterlibatan Amerika Serikat dalam masalah ini untuk mendukung Ukraina mempertahankan Crimea. NATO merupakan sebuah kerjasama collective security yang dibangun oleh Amerika Serikat paska Perang Dunia II.
Bagi Amerika Serikat membendung pengaruh Russia merupakan salah satu motif mengapa Crimea tidak boleh jatuh menjadi wilayah Rusia kembali. Selain karena merupakan musuh lama pada masa perang dingin, secara strategik wilayah Crimea perlu dipertahankan untuk melemahkan pengaruh Rusia masuk ke wilayah Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Jika dilihat secara geopolitk, Rusia berbatasan dengan negara-negara seperti Polandia, Belaruss, dan Ukraina. Dimana Polandia lebih cenderung condong ke pengaruh AS dan Bellarus condong ke pengaruh Rusia. Dengan demikian, Ukraina menjadi negara kunci untuk melemahkan pengaruh Rusia ke wilayah timur tengah.
Selain itu alasan Amerika ikut terlibat karena perebutan wilayah atas Crimea banyak dilatar belakangi oleh berbagai macam hal, meskipun salah satunya dilatarbelakangi oleh pertentangan historis, juga dikarenakan potensi energi yang dimiliki oleh Krimea berupa gas alamnya yang penting bagi dunia[6]. Ukraina juga merupakan eksportir gandum dan jagung terbesar dunia. Harga kedua komoditas ini akan meningkat jika krisis Ukraina terus berlanjut. Hal ini akan meningkatkan ketidakseimbangan harga di wilayah yang mengkonsumsi kedua komoditas tersebut.
Lalu alasan lainnya yaitu pelanggaran HAM dimana banyak warga sipil yang tidak tahu apa- apa menjadi korban akibat bentrokan senjata di konflik tersebut, bukan hanya dari segi keselamatan, warga sipil pun pada akhirnya harus hidup menderita di tengah konflik yang sedang terjadi, tidak sedikit dari warga sipil yang akhirnya mengungsi karena kehilangan tempat tinggal mereka akibat gencetan senjata antra kaum separatis dengan pihak pemerintah Ukraina itu sendiri. Amerika juga ikut turun dengan memberikan banyak bantuan atas nama “HAM”.

Upaya Diplomasi Amerika dalam Penyelesain Konflik Crimea 

Benih-benih pertentangan antara blok Barat dan blok Timur pada era perang dingin sepertinya masih terus berlanjut hingga saat ini. Kasus yang menunjukkan pertentangan itu adalah konflik Crimea di Ukraina. Masalah Crimea saat ini menjadi ladang pertempuran bagi kelompok yang pro-barat dan pro-Rusia. Masalah internal yang terjadi di Ukraina ini menjadi melebar setelah masuknya aktor-aktor lain seperti AS dan Rusia. Amerika Serikat sangat mendukung mempertahankan Crimea di Ukraina,sedangkan Rusia lebih mendukung kemerdekaan Crimea. Hal tersebut yang mendorong konflik berkepanjangan di Crimea. Konflik yang tak kunjung selesai itu membuat aktor-aktor yang terlibat melakukan upaya penyelesaian konflik dengan cara diplomasi maupun negosiasi. Kerena jika terus dibiarkan bisa jadi masalah Crimea akan memicu terjadinya perang dikemudian hari.
Diplomasi AS melalui instrument Ideologi dan Politik
            Amerika Serikat sebagai salah satu aktor yang terlibat melakukan upaya diplomasi dengan menggunakan pendekatan ideologis,yaitu dengan menggunakan nilai-nilai demokrasi sebagai argumen utama yang diperjuangkan dalam membantu oposisi Ukraina. Amerika memainkan cara tersebut dengan menggandeng Negara-negara pecahan Uni Soviet untuk membantu Amerika dalam upaya diplomasi tersebut. Amerika Serikat juga melakukan cara damai dengan menggandeng PPB sebagai lembaga internasional untuk menengahi konflik Crimea tersebut (Republika 2014)[7]. Selain itu, Amerika melakukan propaganda kepada rakyat Ukraina untuk menggulingkan presiden Ukraina Viktor Yanukovych. Lebih lanjut mengenai masalah politik, Amerika Serikat menyatakan bahwa Rusia telah melanggar hukum internasional yang disepakati bersama dengan mengirimkan pasukan ke Ukraina. Adanya  pelanggaran terhadap kedaulatan Ukraina akan memberikan dampak negatif pada posisi Rusia dalam komunitas internasional,hal itu yang menjadi cara Amerika Serikat dalam mengendalikan masalah konflik Crimea di bawah kekuasaannya.
Diplomasi AS melalui Instrument  Ekonomi dan Militer
Upaya diplomasi yang dilakukan oleh Amerika terkait konflik Crimea dalam bidang Ekonomi dan Militer dapat dilihat dari pernyataan Barack Obama pada 2014  lalu yang menyebut bahwa tindakan Rusia di Ukraina sebagai tindakan ” ilegal” dan mendukung Ukraina serta mengecam referendum Rusia[8].Tindakan selanjutnya yang diambil oleh Amerika ialah dengan memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia.Sanksi ekonomi ini antara lain dalam bidang perbankan,dengan  melarang warga Amerika  untuk melakukan kegiatan perbankan dengan tiga bank Rusia seperti pemberian kredit luar luar negeri dan pemblokiran kartu kredit terhadap Putin dan para pendukungnya.
Melalui Kementerian Keuangan, Amerika menyatakan bank-bank yang dijadikan sasaran pada tahapan sanksi ini adalah VTB, the Russian Agriculture Bank (Rosselkhozbank) dan the Bank of Moscow.Selanjutnya Amerika juga menarget perusahaan-perusahaan sektor energi Rusia, termasuk Rosneft, perusahaan minyak terbesar Rusia, Gazprom Neft, unit minyak dari perusahaan raksasa gas alam Gazprom, dan Transneft, operator pipa kilang minyak Rusia, serta tiga perusahaan besar bidang pertahanan[9].Sanksi ekonomi yang diberikan AS juga menarget individu, termasuk para tokoh Rusia dan pemberontak Ukraina, serta pengusaha dan politisi terkemuka Rusia,seperti Sergei Chemezov, kolega dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengepalai perusahaan induk persenjataan dan teknologi Rostec, serta veteran ultra-nasionalis Vladimir Zhirinovsky.Sanksi ekonomi yang diberikan AS yang juga dibantu oleh Uni Eropa mengakibatkan Pasar saham Rusia turun 0,7 persen setelah muncul berita itu, dan mata uang Rubel jatuh ke nilai terendah, menjadi 37,51 per dolar[10].
Upaya diplomasi Amerika dalam bidang militer dilakukan seperti pada Maret 2014 lalu,dimana Amerika  menghentikan kerjasama militer dengan Rusia yang mencakup latihan,pertemuan bilateral,kunjungan pelabuhan dan perencanaan konferensi[11].Selain itu  juga upaya diplomasi Amerika dalam bidang militer dilakukan melalui NATO  dimana  NATO mulai memperkuat kekuatan militernya,terutama di negara-negara yang berbatasan dengan ukraina seperti  Polandia, Romania, Hongaria, dan Slowakia. 

Demikian pula negara-negara Baltik, Lituania, Latvia, dan Estonia. Meskipun Ukraina bukan anggota dari NATO namun jika salah satu dari negara-negara itu kemudian membantu Ukraina dan terlibat perang dengan Rusia, NATO harus  mengintervensi,hal ini sesuai dengan salah satu instrumen politik luar negeri modern Amerika yaitu keamana bersama yang mengatakan bahwa An armed attack against any of its members shall be considered as an attack against all…

Hingga saat ini penggunaan instrument militer Amerika secara langsung belum dilakukan seperti yang dilakukan seperti pada negara-negara lain.Informasi  terakhir yang kami dapat pada tahun 2015 ini ialah Amerika mengirim pasukan militer ke Ukraina untuk melatih Garda Nasional Kiev  dan Amerika  bergabung bersama  pasukan Estonia dalam latihan perang yang dilakukan oleh NATO di Estonia[12].Namun hingga saat ini,Upaya diplomasi Amerika dalam bidang ekonomi dan militer belum dapat membuat Rusia mengembalikan Crimea pada Ukraina.

Dari pemjelasan diatas dapat kami simpulkan bahwa alasan Amerika untuk ikut campur dalam konflik Crymea ialah dikarenakan kepentingan nasional Amerika sendiri dan sebagai implementasi dari empat prinsip kepentingan luar negeri Amerika sendiri yakni Power,Peace,Prosperity dan Principles,sekaligus kompetisi antara Amerika Serikat dengan Rusia secara geopolitik,dimana Amerika Serikat ingin membendung pengaruh Rusia.Secara strategik wilayah Crimea perlu dipertahankan untuk melemahkan pengaruh Rusia masuk ke wilayah Timur Tengah, Asia, dan Afrika.Alasan lainya ialah mengenai isu HAM.

Diplomasi yang dilakukan Amerika dalam kasus Crimea berbeda dengan yang biasanya dilakukan oleh Amerika.Dibawah pemerintahan Barack Obama,Amerika cenderung menggunakan soft diplomacy seperti menggunakan nilai-nilai demokrasi dan menggandeng negara-negara lain maupun PBB dalam menyelesaikan konflik Crimea secara diplomatik dan melalui jalur ekonomi dengan memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia.Penggunaan militer Amerika juga tidak se-agresif ketika Amerika dipimpin oleh G.W.Bus 

Note: Disusun oleh  Rahayu Devita,Siti Meurah Dani,Danis Rahman,Intan dan Yogo Pribadi. 


Daftar Pustaka

Gloystein, H. (2014, Maret 7). Ukraine's Black Sea gas ambitions seen at risk over Crimea.
Sugiono, M. (2004). Global Governance Sebagai Agenda Penelitian Dalam Studi Hubungan Internasional. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , 197.
Candradewi, R. (2014). What Russia wants for Ukraine is to consider its Interest. Jurnal Phobia, 1-12.
http://www.tempo.co/read/news/2014/03/04/117559320/Intervensi-Ukraina-Amerika-Bekukan-Ekonomi-Rusia
international.sindonews.com/read/990681/41/as-kirim-pasukan-ke-ukraina-rusia-geram-1429263595

[1] (Candradewi, 2014)
[2] (Crimea Bergabung dengan Rusia, 2014)
[6] Gloystein, H. (2014, Maret 7). Ukraine's Black Sea gas ambitions seen at risk over Crimea.
[7] Republika. 2014. Ukraina Siap Dialog Dengan Rusia Soal Crimea. Diakses pada 29 April 2015
[9] http://www.tempo.co/read/news/2014/03/04/117559320/Intervensi-Ukraina-Amerika-Bekukan-Ekonomi-Rusia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...