| Add caption |
School
of Journalism adalah seminar yang diadakan oleh KOMAHI (Korps Hahasiswa
Hubungan Internasional) dan Laboratorium HI UMY yang sudah diadakan beberapa
kali (setiap setahun sekali) dan yang ini adalah yang ke-3 kalinya dengan judul
“Media,Perang dan Diplomasi” bersama
Dr.Herdi Syahrasad.
Awalnya saya ingin ikut
dalam seminar ini dikarenakan dalam posternya tertulis bahwa salah satu
pembicaranya adalah Hanum Rais (penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa) namun
dikarenakan satu dan lain hal beliau tidak dapat mengisi seminar ini.Walau sedikit
kecewa namun sudahlah saya tetap ikuti
seminarnya.Dan ternyata pengganti dari mbak Hanum tidak kalah kerennya, beliau
adalah Dr.Henry seorang mantan wartawan perang Indonesia.
Seminar yang awalnya saya kira bakalan membosankan
ternyata sangat menarik,dalam seminar ini beliau membagikan beberapa saran dan
suka dukanya beliau selama menjadi seorang wartawan perang,dan salah satunya
ketika beliau meliput berita pada saat perang Teluk antara Iraq dan Kuwait pada
1990-1991.
Sebagai mahasiswa
Hubungan Internasional,umumnya saya hanya mendapat info dan kisah-kisah perang dari buku-buku,guru/dosen-dosen saya
dan media mass, dan hal ini tentu saja
sangat berbeda ketika bertemu langsung dan mendengar kisah-kisah dan masalah
yang terjadi pada saat perang dari wartawan yang sedang bertugas disana. Benar-benar
pengalaman yang menarik.Beliau berbagi kisah mulai dari sulitnya mendapatkan
visa menuju Baghdad yang mana untuk menunggu visa keluar bahkan hingga berhari-hari
dan ketika tidak bisa mendapatkan visa beliau dengan modal nekatnya langsung menuju
Baghdad tanpa adanya visa.Dalam perjalanan,beliau bertemu dengan ratusan bahkan
ribuan pengungsi yang banyak terdiri dari pekerja-pekerja yang sebelumnya
bekerja di Kuwait,dan dari ratusan pengungsi tersebut juga banyak yang berasal
dari Indonesia dengan berbagai kisah mereka yang begitu beragam dan menyedihkan
sebagai dampak perang yang begitu mengenaskan.
Pengalaman beliau yang
beliau bagikan kepada kami begitu luar biasa,ini pertama kalinya saya bertemu
dengan seorang wartawan perang dan dapat berdiskusi secara langsung.Beliau juga
memberikan beberapa saran tentang bagaimana menjadi seorang jurnalis perang,mulai
dari ; Harus nekat,berani,harus melapor pada KEDUBES negara kita jika hendak
meliput dinegara yang sedang konflik,kemudian harus mengenali kehidupan malam
tempat yang hendak kita liput,mengenali medan laga/lingkungannya dengan membaca
literatur-literatur tentang negara tersebut mulai dari koran hingga
mewawancarai masyarakat,LSM bahkan para intelektualnya,memiliki perangkat
keamanan dan tentu saja harus selamat.
Situasi dan dampak
perang merupakan info yang banyak dibagi
beliau pada seminar kali ini.Beliau bercerita bahwa korban utama dari adanya
perang adalah wanita dan anak-anak,bagaimana mereka harus pergi meninggalkan tempat tinggal dan
bahkan mendapatkan pelecehan seksual,belum lagi mental dan kenangan buruk akan
perang.
Namun hal yang begitu
menarik bagi saya adalah mengenai “agenda tersembunyi”dari adanya perang,mulai
dari keuntungan ekonomi yang akan didapatkan oleh pihak-pihak
tertentu,meningkatnya nilai saham beberapa perusahan (terutama perusahan media
massa yang memiliki informasi ter up-date dari wartawan perangnya) hingga para
intelejen yang menyamar sebagai wartawan perang.Sebagai orang yang tertarik
dengan dunia jurnalism saya banyak mendapatkan pengalaman baru dan berharap
dapat bertemu serta berdiskusi dengan orang-orang yang banyak memberi inspirasi
seperti Dr.Herdi Syahrasad yang begitu banyak memiliki pengalaman hidup yang
menarik.Dan terimakasih juga untuk KOMAHI UMY yang telah menyelenggarakan seminar ini,Tetap semangat :)
Komentar