Langsung ke konten utama

Pengalaman Pertama Bertemu salah satu Wartawan Perang Indonesia



Add caption
    Akhirnya saya mendapatkan semangat untuk kembali menulis di blog ini :) Hmmm untuk kali ini saya akan sedikit membagi pengalaman saya mengenai seminar yang saya ikuti beberapa minggu lalu,ya walaupun hanya seminar biasa yang sering diadakan di kampus namun yang menurut saya bahwa seminar kali ini sangat menarik dikarenakan tema dan pembicaranya.Ok langsung saja seminar yang saya ikuti ini mengenai School of Journalism .

 School of Journalism adalah seminar yang diadakan oleh KOMAHI (Korps Hahasiswa Hubungan Internasional) dan Laboratorium HI UMY yang sudah diadakan beberapa kali (setiap setahun sekali) dan yang ini adalah yang ke-3 kalinya dengan judul “Media,Perang dan Diplomasi”  bersama Dr.Herdi Syahrasad.

Awalnya saya ingin ikut dalam seminar ini dikarenakan dalam posternya tertulis bahwa salah satu pembicaranya adalah Hanum Rais (penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa) namun dikarenakan satu dan lain hal beliau tidak dapat mengisi seminar ini.Walau sedikit kecewa namun sudahlah saya tetap  ikuti seminarnya.Dan ternyata pengganti dari mbak Hanum tidak kalah kerennya, beliau adalah Dr.Henry seorang mantan wartawan perang Indonesia.

Seminar yang awalnya saya kira bakalan membosankan ternyata sangat menarik,dalam seminar ini beliau membagikan beberapa saran dan suka dukanya beliau selama menjadi seorang wartawan perang,dan salah satunya ketika beliau meliput berita pada saat perang Teluk antara Iraq dan Kuwait pada 1990-1991.

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional,umumnya saya hanya mendapat info dan kisah-kisah  perang dari buku-buku,guru/dosen-dosen saya dan media mass, dan hal ini  tentu saja sangat berbeda ketika bertemu langsung dan mendengar kisah-kisah dan masalah yang terjadi pada saat perang dari wartawan yang sedang bertugas disana. Benar-benar pengalaman yang menarik.Beliau berbagi kisah mulai dari sulitnya mendapatkan visa menuju Baghdad yang mana untuk menunggu visa keluar bahkan hingga berhari-hari dan ketika tidak bisa mendapatkan visa beliau dengan modal nekatnya langsung menuju Baghdad tanpa adanya visa.Dalam perjalanan,beliau bertemu dengan ratusan bahkan ribuan pengungsi yang banyak terdiri dari pekerja-pekerja yang sebelumnya bekerja di Kuwait,dan dari ratusan pengungsi tersebut juga banyak yang berasal dari Indonesia dengan berbagai kisah mereka yang begitu beragam dan menyedihkan sebagai dampak perang yang begitu mengenaskan.

Pengalaman beliau yang beliau bagikan kepada kami begitu luar biasa,ini pertama kalinya saya bertemu dengan seorang wartawan perang dan dapat berdiskusi secara langsung.Beliau juga memberikan beberapa saran tentang bagaimana menjadi seorang jurnalis perang,mulai dari ; Harus nekat,berani,harus melapor pada KEDUBES negara kita jika hendak meliput dinegara yang sedang konflik,kemudian harus mengenali kehidupan malam tempat yang hendak kita liput,mengenali medan laga/lingkungannya dengan membaca literatur-literatur tentang negara tersebut mulai dari koran hingga mewawancarai masyarakat,LSM bahkan para intelektualnya,memiliki perangkat keamanan dan tentu saja harus selamat.

Situasi dan dampak perang merupakan  info yang banyak dibagi beliau pada seminar kali ini.Beliau bercerita bahwa korban utama dari adanya perang adalah wanita dan anak-anak,bagaimana mereka  harus pergi meninggalkan tempat tinggal dan bahkan mendapatkan pelecehan seksual,belum lagi mental dan kenangan buruk akan perang.

Namun hal yang begitu menarik bagi saya adalah mengenai “agenda tersembunyi”dari adanya perang,mulai dari keuntungan ekonomi yang akan didapatkan oleh pihak-pihak tertentu,meningkatnya nilai saham beberapa perusahan (terutama perusahan media massa yang memiliki informasi ter up-date dari wartawan perangnya) hingga para intelejen yang menyamar sebagai wartawan perang.Sebagai orang yang tertarik dengan dunia jurnalism saya banyak mendapatkan pengalaman baru dan berharap dapat bertemu serta berdiskusi dengan orang-orang yang banyak memberi inspirasi seperti Dr.Herdi Syahrasad yang begitu banyak memiliki pengalaman hidup yang menarik.Dan terimakasih juga untuk KOMAHI UMY yang telah menyelenggarakan seminar ini,Tetap semangat :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...