Langsung ke konten utama

Saat Kelas Menengah Tak Lagi Peduli Demokrasi



 Opini: Mengapa Kelas Menengah Sering Apatis terhadap Demokrasi?


Dalam sebuah negara demokrasi, partisipasi warga negara sangatlah krusial. Warga yang demokratis akan aktif mengkritisi kebijakan publik dan menjalankan hak serta kewajibannya. Kelompok yang dianggap paling berpengaruh dalam hal ini adalah masyarakat kelas menengah. Mereka memiliki keunggulan berupa kemandirian ekonomi, pendidikan yang baik, dan akses informasi yang luas, yang memungkinkan mereka untuk mengawasi pemerintah.

Di Indonesia, pertumbuhan kelas menengah sangat pesat. Pada 2011, data dari Bank Dunia menunjukkan jumlahnya mencapai 134 juta jiwa. Namun, meskipun memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam politik, sebagian besar dari mereka justru cenderung apatis dan enggan berpartisipasi secara langsung.

Apatisme dan Hambatan dalam Berdemokrasi

Apatisme adalah sikap acuh tak acuh dan ketidakpedulian terhadap rangsangan emosional, sosial, atau fisik. Sikap ini menjadi hambatan serius dalam pelaksanaan demokrasi. Alasan di baliknya tidak sesederhana kurangnya pengetahuan; menurut pengamat politik Eep Saefulloh Fatah, salah satu penyebabnya adalah karena koruptor yang dihadapi seringkali berasal dari latar belakang yang sama—yaitu sesama kelas menengah.

Salah satu bentuk nyata dari apatisme ini adalah fenomena golput (golongan putih) saat pemilu. Padahal, partisipasi aktif seluruh warga negara adalah syarat utama bagi negara demokrasi. Apatisme juga dapat memudarkan rasa bangga terhadap bangsa, karena warga hanya peduli pada kebijakan yang menguntungkan diri mereka sendiri. Jika terus berlanjut, demokrasi di Indonesia hanya akan menjadi simbol semata.

Solusi untuk Mengatasi Apatisme

Saat ini, aspirasi kelas menengah seringkali disalurkan melalui media sosial seperti Facebook atau Twitter. Namun, pendapat ini cenderung tidak berdampak nyata tanpa adanya tindakan konkret. Seharusnya, penggunaan media sosial menjadi awal dari keterlibatan langsung dalam masyarakat.

Untuk mengatasi sikap apatis ini, diperlukan pendidikan karakter tentang ke-Indonesia-an yang dimulai dari lingkungan keluarga hingga pendidikan formal di sekolah. Meskipun tidak mudah, perubahan dapat terjadi jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. Partisipasi aktif dari kelas menengah sangat penting agar demokrasi di Indonesia dapat berjalan sesuai dengan cita-cita masyarakat madani yang berlandaskan Pancasila.

 

 

 

Referensi

 

http://aiyaiy.blogspot.com/2011/03/demokrasi.html

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Social_class

http://m.merdeka.com/khas/kunci-sukses-jokowi-kelas-menengahacirccedilengagement-dan-media-opini.html

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/12/05/281324/284/1/Kelas-Menengah-Cuek-terhadap-Korups

http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/2291557-pengertian-apatis/

http://www.indonesiamenulis.co/?tampil=siswamenulis&id=7

 

Komentar

Anonim mengatakan…
bagus..:) like this (y)

Postingan populer dari blog ini

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Biografi

Biografi Umar bin Khattab RA Umar Ibn Al Khathtab yang memiliki nama lengkap Umar bin Khathtab  adalah khalifah ke dua yang diangkat setelah kematian khalifah pertama Abu Bakar Ash Shiddiq RA. Umar berasal dari Kabilah bani ‘Adi ,salah satu suku cabang bani Quraisy dan merupakan salah satu kabillah yang cukup terpandang dan disegani. Ayahnya, al-Khattab bin Nufail bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Razah bin Adi bin Ka'b. Adi ini saudara Murrah, kakek Nabi yang kedelapan. Ibunya, Hantamah binti Hasyim bin al Mugirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.Umar lahir di Mekkah kira-kira pada tahun 577 Masehi dan wafat pada bulan Muharam tahun 24 Hijriah (644 Masehi)  akibat dari tikaman Abu Lu’lu’ah ketika beliau sedang menunaikan shalat subuh. Umar mulai memangku jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan pada usia sekitar 57 tahun dan memerintah selama 10 tahun yaitu dari tahun 634 sampai dengan 644 Masehi atau dari tahun 13 sampai dengan 25 Hijriah.Um...

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...