Langsung ke konten utama

Postingan

  Across the Islands, We Learned to Whisper I did not learn about power from books.I learned it from the distance between my island and the place where decisions were made. In Nusantara Raya, an archipelagic nation, the sea does more than separate land. It separates voices from authority. Policies travel easily across the water; accountability does not.From the capital, islands are described in plans and projections development zones , economic potential , unused land . On the islands themselves, people use a different language. They speak of forests, rivers, ancestry, and survival. They speak of home. I live on what many maps call a peripheral island. We call our forest Mama . Not as poetry, but as truth. The forest feeds us, shelters us, and receives the placentas of newborn children, binding life to land across generations.In official documents, Mama is labelled idle land . When heavy machinery arrived, there was no meaningful consultation. Trees fell one by one. An elde...
Postingan terbaru

7 Instrumen Diplomasi

7 Instrumen Diplomasi    Sebagai alumni Hubungan Internasional meskipun pekerjaan saya saat ini tidak sepenuhnya berada di bidang yang sama saya merasa ilmu ini tetap sangat bermanfaat, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin berbagi mengenai tujuh instrumen yang digunakan dalam praktik diplomasi. 1.     Soft Diplomacy/Soft Power      Pendekatan halus untuk mempengaruhi pihak lain melalui budaya,nilai,dan interaksi social. ·      Cultural Diplomacy - pertukaran budaya,seni,music,tarian,bahasa. ·        Gastonomy Diplomacy (Culinary Diplomacy) - mengundang makan,jamuan,menunjukan identitas Negara lewat makanan. ·         Education Diplomacy   -  Beasiswa,pertukaran pelajar. ·       Sport Diplomacy  -  Pertandingan olahraga bersama. ...

“THE FOREST THAT REMEMBERED”

A story born from silence,about power that marries itself into stronger power,governments that trade family ties for influence,and the forests and creatures that pay the price.This is my reflection on how human ambition can drown elephants, displace tigers, and reshape entire landscapes.Because when power becomes a family business,nature becomes collateral damage.    Chapter 1: Origins of Power This chapter introduces the roots of strategic political marriages through the lens of International Relations theory. Using Realism, humans are portrayed like Panthera tigris (tiger), competing for dominance and survival. Chapter 2: Ego and Conflict Inspired by the user’s idea of human egoism, this chapter uses Liberalism to explore how cooperation often fails. Just like Elephas maximus (Asian elephant) fights for territory, humans struggle for influence. Chapter 3: Nature as Diplomacy Using scientific names such as Elaeis guineensis (oil palm) and Pongo abelii (Sumatran oran...

Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Perspektif Feminist Theory: Studi Kasus Kota Sorong dan Implementasi SDGs

Hak Kesehatan Reproduksi Perempuan dalam Perspektif Feminist Theory: Studi Kasus Kota Sorong dan Implementasi SDGs  Rahayu Devita Sorong,Papua Barat Daya, Indonesia Journal  Abstrak  Tulisan ini menganalisis isu hak kesehatan reproduksi perempuan di Kota Sorong, Papua Barat Daya, dalam kerangka Feminist Theory pada studi Hubungan Internasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kasus, dengan data sekunder dari laporan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Komnas Perempuan, dokumen PBB, dan sumber literatur akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Indonesia telah mengadopsi instrumen internasional seperti Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) dan Sustainable Development Goals (SDGs), implementasi hak kesehatan reproduksi di wilayah konflik seperti Papua Barat masih terkendala faktor struktural (akses layanan), kultural (stigma), dan ekonomi (kemiskinan)....

PAPER PERBANDINGAN INDUSTRI KREATIF ANTARA KOREA SELATAN DENGAN SINGAPURA

Tugas Akhir Mata Kuliah Ekonomi Politik di Asia Timur Note: Late Post Paper Mahasiswa UMY 2015   Korea Selatan dan Singapura adalah dua negara dengan wilayah yang tidak terlalu besar dibandingkan dengan negara-negara lainnya di kawasan Asia Timur. Keduanya sama-sama memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya alam. Namun demikian, keduanya memiliki cita-cita yang besar untuk menjadi negara maju di kawasan Asia Timur dan di dunia internasional. Selama ini Korea Selatan dan Singapura membangun perekonomian negaranya tidak bertumpu pada kekayaan sumber daya alam dalam negeri yang dimilikinya. Keterbatasan sumber daya alam dalam negeri jelas membuat keduanya cenderung lebih berkonsentrasi dalam mengembangkan sumber daya manusia yang unggul. Maka, kedua negara justru membangun perekonomiannya dengan bertumpu pada sektor ekonomi kreatif yang dikembangkan dan dikemas sedemikian rupa dalam bentuk produk budaya, ilmu pengetahuan, hiburan, pariwisata, maupun jasa yang memberi kontribusi besa...